Kapolda Bali Golose: Saya Tidak Ingin Ada Lagi Premanisme di Pulau Ini
Jenderal Bintang Dua yang pernah melumpuhkan teroris kelas kakap Dr Azahari ini pun menjamin tidak akan ada lagi premanisme di Pulau Dewata.
Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara | Editor: Eviera Paramita Sandi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kapolda Bali, Irjen Pol Dr Petrus Reihard Golose, bicara soal adanya isu organisasi kemasyarakatan (ormas) baru yang akan hadir di Bali.
Namun Golose memastikan tidak akan ada ormas baru lagi di Pulau Dewata, apalagi di masa pandemi Covid-19 ini.
Jenderal Bintang Dua yang pernah melumpuhkan teroris kelas kakap Dr Azahari ini pun menjamin tidak akan ada lagi premanisme di Pulau Dewata.
"Di mana, saya nggak ada cerita itu (ormas baru). Gak akan (ada). Kalau coba- coba silakan saja!" tegas Golose kepada awak media di Mapolda Bali, Kamis (25/6/2020).
Mantan Deputi Bidang Kerja Sama Internasional Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) tahun 2015 ini mengatakan, masyarakat Bali sudah mengalami kesulitan di masa pandemi Covid-19 ini.
Itu sebabnya, jangan sampai ada premanisme lagi yang mengusik kehidupan masyarakat Bali.
"Saya tidak ingin ada lagi premanisme di pulau ini. Kalau muncul, coba saja! Boleh! Sudah terlalu sulit rakyat Bali sekarang ini, sudah kena dari dampak pariwisata dan sebagainya jangan lagi ditambah dengan ini (premanisme)," tandasnya.
Saat ini santer dikabarkan akan berdiri ormas baru bernama Tim Hercules Bali.
Keberadaan ormas ini diketahui setelah berkunjung ke kediaman Plt Ketua DPD II Golkar Badung yang juga Wakil Ketua DPRD Badung, Wayan Suyasa, di Desa Penarungan, Mengwi, Rabu (10/6/2020).
Puluhan anggota Tim Hercules ini datang untuk meminta Wayan Suyasa bersedia menjadi pembina organisasi tersebut untuk wilayah Bali serta mengayomi anggota Tim Hercules yang ada di Bali.
Belum Jadi Ormas
Terpisah, Direktur Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Bali Kombes Pol Dodi Rahmawan menyatakan, pihaknya telah menelusuri keberadaan Tim Hercules Bali ini.
Namun sampai saat ini belum ada legalitas keberadaan Tim Hercules tersebut di Bali.
Tim Hercules Bali, kata Dodi, hingga saat ini belum berbentuk ormas dan belum berbadan hukum.
"Nama itu tidak ada artinya. Sejauh ini legalitas dari organisasi atau tim yang dibentuk itu tidak ada. Jadi istilah saya, itu nama yang digunakan tidak ada artinya," ujar Dodi di ruang kerjanya.
Sebelumnya, Penyidik Ditreskrimum Polda Bali sudah memanggil Wayan Suyasa untuk dimintai keterangan terkait dirinya sebagai dewan penasehat/pembina Tim Hercules Bali, Minggu (14/6/2020).
“Iya benar, sudah dimintai keterangan terkait video viral di media sosial,” kata Kabid Humas Polda Bali, Kombes Pol. Syamsi, sebagaimana dikutip pada laman web Divisi Humas Polri humas.polri.go.id.
Setelah dipanggil Polda Bali, Wayan Suyasa juga dipanggil DPD Partai Golkar Bali terkait kabar penunjukan dirinya sebagai dewan penasehat/pembina Tim Hercules Bali.
Wayan Suyasa mengatakan saat itu dirinya menerima Frangky Hercules sebagai sahabat lama.
Menurut dia, sebagai wakil rakyat dirinya harus menerima seluruh elemen masyarakat tanpa kecuali.
Pun mengenai penganugerahan posisi sebagai penasehat/pembina Tim Hercules Bali, Suyasa mengaku dirinya tidak bisa menolak itikad baik dari Tim Hercules Bali.
Ia pun menyatakan posisi sebagai pembina Tim Hercules Bali tersebut dalam posisi informal.
"Saya diberikan penasihat secara informal, karena ormas atau lembaga apapun kan ada aturan, ada AD/ART, ini kan belum," katanya seusai dipanggil Ketua DPD I Golkar Bali.
Sebagai kader Golkar, ia pun menegaskan siap menjalankan intruksi dan perintah partai, termasuk dengan tidak menjadi pembina Tim Hercules Bali.
Kawal Komitmen Kapolda Kombes Dodi menambahkan, Kapolda Bali memiliki komitmen yang tegas dengan premanisme dan narkoba, Dodi pun menyatakan siap mengawal komitmen tersebut.
"Dalam kebijakan bapak kapolda jelas perintahnya, yang pertama adalah street crime atau kejahatan jalanan.
Apapun modus operandi ini tidak ada ruang untuk mereka menjalankan aksinya.
Dengan menggunakan kekerasan, ancaman, menzolimi saudara sendiri, ini juga bagian dari tanggungjawab kami untuk aktif memonitor, mengidentifikasi dan memberikan tindakan tegas dan terukur," kata
pria yang baru resmi menjabat Direkskrimum Polda Bali sejak 4 Juni lalu itu.
Dengan tegas, Dodi mengatakan siapapun yang mengatasnamakan kelompok, ormas atau tim, jika berbuat kriminal di Bali akan ditindak tegas oleh Polda Bali.
"Siapapun itu, apapun bentuknya, jika mereka melakukan tindak pidana dan terbukti maka kami akan tindak tegas," Mantan Diresnarkoba Polda Sulteng ini menjelaskan, saat ini masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Bali menghadapi situasi yang sangat dinamis.
Saat ini masyarakat banyak dihadapkan dengan persoalan Covid-19, persoalan ekonomi, dan sebentar lagi Bali akan menjalankan situasi politik dalam rangka demokrasi, yakni Pilkada Serentak.
"Saya rasa ini hal yang perlu menjadi perhatian kita semuanya, kami sebagai aparatur penegak hukum yang punya tanggungjawab dalam penegakan undang- undang harus memberikan jaminan kepada masyarakat,kepada investasi yang ada, sehingga pembangunan yang ada di Bali ini bisa betul-betul mensejahterakan dan bisa menberikan kedamaian kepada masyarakat yang ada di Pulau Bali ini," kata Dodi.
Soal kejahatan kriminal yang dilakoni oleh kelompok-kelompok yang mengatasnamakan politik identitas, lanjut Dodi, menjadi perhatian serius Polda Bali saat ini.
"Salah satu yang jadi tren atau yang jadi perhatian kami adalah aksi premanisme yang sangat mengganggu dan sangat meresahkan. Mengatasnamakan kedaerahan, simbol-simbol organisasi kemasyarakatan, itu yang akan menjadi perhatian kita semuanya," ujarnya. (win)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/kapolda-bali-irjen-pol-dr-petrus-reinhard-golose-pantau-situasi-lalu-lintas-lewat-udara.jpg)