Agar Efektif dan Efisien, Desa Adat Buleleng Bangun Krematorium Rp 1 Miliar

Mengawali rencana itu, sejumlah aparat di Desa Adat Buleleng melaksanakan upacara ngeruak di lokasi rencana pembangunan gedung pengabuan.

istimewa
Aparat Desa Adat Buleleng melaksanakan upacara ngeruak di lokasi rencana pembangunan gedung pengabuan atau krematorium, Minggu (28/6/2020). 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Desa Adat Buleleng akan membangun gedung pengabuan atau yang dikenal dengan krematorium di Setra Adat Desa Buleleng.

Krematorium ini dibuat selain dinilai lebih efektif dan efisien, juga atas keinginan warga di desa adat setempat.

Mengawali rencana itu, sejumlah aparat di Desa Adat Buleleng melaksanakan upacara ngeruak di lokasi rencana pembangunan gedung pengabuan, Minggu (28/6/2020).

Upacara ngeruak dipimpin Jro Mangku Dalem Desa Adat Buleleng dihadiri Kelian Desa Adat Buleleng Nyoman Sutrisna, pengelola setra Ketut Suryada, serta para kelian banjar adat di wewidangan Desa Adat Buleleng.

Nyoman Sutrisna mengatakan, pembangunan krematorium ini sudah direncanankan sejak lama.

Namun karena dana yang dimiliki terbatas serta harus menyusun master plan, rencana itu baru bisa dimulai sekarang.

Krematorium dibuat untuk mengikuti perkembangan zaman, serta untuk mempermudah dan mempercepat proses pembakaran mayat.

Anggaran yang disiapkan untuk membangun krematorium ini sebesar Rp 1 miliar.

"Kami buat master plan jalan melingkar, jadi posisi gedung pengabuannya ada di bawah sebelah Timur dari Setra Buleleng, ada rumah dukanya juga. Disiapkan tempat parkir juga. Krematorium ini nanti dioperasikan oleh pihak ketiga dalam hal ini sebuah yayasan, namun hasilnya nanti akan dibagi dua dengan desa adat," jelas mantan kepala Dinas Pariwisata Buleleng ini.

Sutrisna menyebut, krematorium ini akan dibuka untuk umum, dengan catatan mengikuti awig-awig yang ada di Desa Adat Buleleng.

Seperti tidak melakukan pembakaran saat purnama-tilem, dan piodalan kahyangan tiga.

Terkait biaya kremasi, akan diatur dalam perarem.

"Kremasi ini tidak termasuk banten. Kami hanya menyediakan tempat pembakaran saja. Kalau krama dari Desa Adat Buleleng, hanya bayar uang kebersihan dan ongkos gas Rp 850 ribu. Sementara untuk warga dari luar Desa Adat Buleleng hanya bayar penanjung batu, disesuaikan dengan kondisi ekonominya mulai dari 0 rupiah sampai Rp 3 juta. 0 rupiah ini untuk jenazah tanpa identitas yang biasanya dititip oleh Dinsos," tutupnya. (*)

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani
Editor: Bambang Wiyono
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved