Family Farming, Strategi Kedaulatan Pangan Rumah Tangga di Masa Pandemi

Laporan Badan Pusat Statistik pada triwulan I tahun 2020 menyebutkan bahwa capaian perekonomian Bali mengalami kontraksi hingga 1,14 persen

sippakorn yamkasikorn dari Pixabay
Ilustrasi - Salah-satu kegiatan yang banyak dilakukan selama di rumah belakangan ini adalah berkebun, menanam sayuran untuk memenuhi kebutuhan pangan. 

TRIBUN-BALI.COM - Mewabahnya virus korona telah melumpuhkan hampir semua aspek kehidupan.

Laporan Badan Pusat Statistik pada triwulan I tahun 2020 menyebutkan bahwa capaian perekonomian Bali mengalami kontraksi hingga 1,14 persen dengan kategori industri yang terdampak paling besar adalah kategori penyedia makanan dan minuman yang tumbuh negatif sedalam 9,11 persen.

Situasi ini tidak hanya berhenti di sektor pariwisata.

Multiplier effect atau dampak ikutannya pun dirasakan bagi para petani.

Pada bulan Mei 2020 dilaporkan bahwa indeks Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat sebesar 93,54.

Capaian ini merupakan indeks terendah dibandingkan dengan capaian pada bulan-bulan sebelumnya selama tahun 2020.

Update Corona 29 Juni 2020: Sudah Lebih dari 10 Juta Orang di Seluruh Dunia Terinfeksi Covid-19

BREAKING NEWS - Tanpa Surat Keterangan Rapid Test, 20 Duktang Berhasil Lolos ke Klungkung

Bahas Penanganan Covid-19 di Balai Kota Surabaya, Risma Mendadak Bersujud Sambil Pegangi Kaki Dokter

Artinya, dalam tingkatan tertentu nilai tukar produk yang dihasilkan petani belum mencukupi untuk memenuhi konsumsi rumah tangganya dan biaya produksi pertanian.

Singkat kata, petani cenderung merugi.

Selain itu, fenomena ini dapat dijadikan sebagai early warning bahwa industri pertanian kita sedang tidak baik-baik saja.

Apalagi selama masa pandemi yang belum jelas kapan akan berakhir, tekanan ekonomi yang dialami rumah tangga pertanian pun tidak dapat diabaikan.

Halaman
1234
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved