Citizen Journalism

Layangan: Kesenangan, Korban Nyawa dan Padamkan Listrik

Beberapa hari terakhir terakhir ini kita disuguhkan oleh lemah gemulai liak liuk layang-layang dengan berbagai ukuran BESAR yang menimbulkan kerugian

Istimewa
I W Jondra, Dosen Teknik Elektro Politeknik Negeri Bali 

Layangan yang jatuh ini telah mengakibatkan padamannya jaringan PLN. Jika listrik padam tentu hal ini akan mengganggu aktivitas prekonomian dan Kesehatan di era pandemic ini.

Jika hal ini terjadi lagi-lagi yang dirugikan adalah orang-orang produktif untuk membangkitkan perekonomian Bali.

Orang-orang yang tidak produktif tolong bantu mereka yang produktif, dengan jalan jangan diganggu produktifitasnya, karena listrik padam ditimpa layangan.

Manusia Bali harus mengembalikan kearifannya dengan menerbangkan layangannya di area terbuka hijau, bukan dipemukiman. PLN juga hendaknya harus melakukan perubahan-perubahan dalam jaringannya.

PLN hendaknya mengurangi bagian-bagian jaringan-jaringan yang terbuka, sehingga dapat mengurangi potensi padam.

PLN mesti memasang cover/tekep pada jaringannya sehingga bagian-bagian terbuka terlindungi, dan mengurangi potensi gangguan layangan.

Manusia Bali saat ini sepertinya telah krisis kearifan, sehingga pendekatan-pendekatan hukum, penting dilakukan sebagai efek jera bagi pelakunya.

Kepolisian harus mengusut tuntas permasalahan layangan di Sesetan yang telah memakan korban Nyawa.

Tokoh masyarakat, dan tokoh adat harus mendukung aparat kepolisian untuk menegakkan aturan.

Perlu dipahami oleh pemain layangan bahwa perbuatannya dapat mengakibatkan orang lain mati, dan dapat diancam Pasal 359 KUHP yang berbunyi sebagai berikut:

Barangsiapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain mati, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana kurungan paling lama satu tahun.

Dengan kejadian ini harus mampu menjadi efek jera bagi para pemain layangan.

Bagi Tokoh masyarakat dan tokoh adat hendaknya melakukan tindakan yang dianggap perlu untuk
mengendalikan layangan, seperti misalnya memberi imbauan, pengawasan bahkan dapat pula dibuat dalam bentuk perarem.

Hal ini penting untuk melindungi warga adat secara keseluruhan.

Bagi pemerintah daerah daerah dalam hal ini Gubernur Bali, perlu menerbitkan Pergub untuk mengendalikan layangan ini.

Sebagai sebuah produk budaya dan sarana rekreasi layangan tidak boleh punah, masyarakat tetap dapat bermain layangan, tetapi dengan ukuran, ketinggian, bahan, teknologi dan tempat tertentu.

Pergub menjadi penting bagi aparat untuk mengawasi keberadaan layang yang dapat mengganggu orang lain, bahkan yang potensial mengancam harta benda, keselamatan dan jiwa orang lain.

Penulis : I W Jondra

Dosen Teknik Elektro Politeknik Negeri Bali

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved