Empat Desa di Buleleng Zona Merah Rabies, 11 Desa yang Berbatasan Jadi Perhatian

Sebelumnya, kasus rabies banyak terjadi di daerah perbukitan, namun dua tahun belakangan, justru banyak terjadi di daerah dataran rendah.

Tribun Bali/dwi suputra
Ilustrasi rabies 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Dinas Pertanian Buleleng menetapkan empat desa di Kabupaten Buleleng sebagai zona merah kasus rabies.

Empat desa itu di antaranya Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Desa Sangsit, Kecamatan Sawan, Desa Banyupoh, Kecamatan Gerokgak, dan Desa Joanyar, Kecamatan Seririt.

Keempat desa ini menjadi prioritas program vaksinasi rabies di tahun 2020.

Kepala Dinas Pertanian Buleleng, I Made Sumiarta mengatakan, sejak Januari hingga saat ini, sudah ada enam kasus gigitan anjing rabies di Buleleng. Kasus itu terjadi di empat desa tersebut.

“Zona merah menjadi prioritas vaksinasi massal. Selain itu juga ada 11 desa lain yang berbatasan langsung dengan zona merah juga kami utamakan untuk menekan penyebaran rabiesnya,” katanya, Selasa (30/6/2020).

Zona merah rabies saat ini, diakui Sumiarta, mengalami perubahan pola.

Sebelumnya, kasus rabies banyak terjadi di daerah perbukitan.

Namun dua tahun belakangan, justru banyak terjadi di daerah dataran rendah, yang minim hutan rimbun.

Hal ini terjadi lantaran banyak masyarakat yang mulai membuang anak anjing di tempat-tempat umum seperti TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu) hingga kuburan.

Untuk itu, Sumiarta berharap agar masing-masing desa adat ikut berpartisipasi menekan kasus rabies, dan pengendalian populasi anjing lewat perarem.

Halaman
12
Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani
Editor: Bambang Wiyono
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved