Breaking News:

Warga Sekitar Sanur: Aneh, Biasanya Mande 12 Cuaca Bagus Untuk Melaut

Warga sekitar pesisir Semawang, Sanur, Kadek Suprapta Meranggi mengatakan ada keanehan yang terjadi di perairan Sanur, Denpasar Selatan, Denpasar

(KOMPAS.Com/ JUNAEDI)
Ilustrasi gelombang tinggi 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Warga sekitar pesisir Semawang, Sanur, Kadek Suprapta Meranggi mengatakan ada keanehan yang terjadi di perairan Sanur, Denpasar Selatan, Denpasar, Bali, pada Kamis (2/7/2020).

Ia mengatakan, dua belas hari setelah purnama atau bulan mati (Mande 12) seharusnya perhitungannya cuaca bagus untuk melaut, akan tetapi terjadi gelombang tinggi.

"Biasanya tenang, ini aneh, hari ke-12 setelah bulan mati atau setelah purnama biasanya bagus untuk melaut, cerah, tidak ada pasang surut air laut, tapi ini bergejolak," kata Kadek kepada Tribun Bali

"Mande namanya hitungan hari terhitung dari bulan mati atau bulan purnama. Di puncak purnama atau bulan mati disebut mande 15, satu hari setelah itu disebut mande pisan (1) dan hari ini mande 12," imbuh dia.

Kadek menduga hal ini berkaitan dengan adanya kejadian nahas yang menimpa salah seorang di Tanjung Benoa dan ditemukan meninggal dunia di laut setelah sempat hilang.

Diceritakannya, setiap ada yang meninggal dunia di laut biasanya terjadi gelombang tinggi selama 3 hari.

"Biasanya kalau ada yang meninggal dunia di lait, terjadi gelombang tinggi 3 hari, selalu begitu, seharusnya tidak begini kalau perhitungan laut hari ke-12 setelah bulan mati harusnya bagus hari 10-14 bagus untuk melaut," ujar dia.

Akan tetapi, Kadek juga menjelaskan memang secara ilmiah melalui Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sedang terjadi fenomena peringatan dini gelombang tinggi.

"BMKG juga sudah mengeluarkan peringatan dini menyebutkan ada fenomena gelombang tinggi di perairan Bali," ujar dia.

Diberitakan Tribun Bali, Kadek Dika (19) sebelumnya Selasa (30/6/2020) dikabarkan hilang karena sampannya terbalik saat melaut di Perairan Benoa (Tol Bali Mandara), Bali.

Korban ditemukan dalam keadaan meninggal dunia oleh seorang nelayan Desa Jimbaran dinihari tadi.

“Pukul 02.40 Wita tadi kami terima info dari Tuwiwid melalui HP menginformasikan pada Pukul 00.18 Wita korban (Kadek Dika) ditemukan oleh Nelayan Desa Jimbaran yakni Made Sudana yang kemudian menghubungi keluarga korban,” kata Kepala Kantor Basarnas Bali Gede Darmada, Kamis (2/7/2020).

Korban ditemukan kurang lebih 500 meter arah utara dari LKP pada koordinat 08°45,696’ S – 115° 11,856’ E dalam keadaan meninggal dunia dan masih berpakaian lengkap.

Selanjutnya korban dibawa menuju rumah duka dengan menggunakan ambulance Desa Adat Jimbaran.

“Dengan ditemukannya korban oleh nelayan, makan pelaksanaan operasi SAR dinyatakan selesai dan ditutup,” imbuh Gede Darmada. (*)

Penulis: Adrian Amurwonegoro
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved