Breaking News:

Corona di Bali

Kisah Satgas Gotong Royong Banjar Serokadan Bangli Saat Ada Lonjakan Kasus Akibat Alat Rapid Test

Upaya tersebut dilakukan sebab pihaknya sadar bahwa di wilayah Banjar Serokadan terdapat 150 orang warga yang merupakan Pekerja Migran Indonesia

Tribun Bali/Muhammad Fredey Mercury
Suasana rapid test di Banjar Serokadan April lalu 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI  – Menjadi wilayah pertama yang melakukan rapid test masal, Banjar Adat Serokadan tak luput dari pandangan sinis akibat melonjaknya kasus Covid-19.

Namun siapa sangka, banjar yang terletak di Desa Abuan, Kecamatan Susut itu justru menjadi pahlawan lantaran mampu membuka tabir ihwal alat rapid yang kurang tepat dalam menunjukkan hasil tes.

Penanggung Jawab Satgas Gotong Royong Banjar Adat Serokadan, Dewa Gede Oka mengungkapkan sebelum terbentuknya satgas gotong royong, pihaknya telah melakukan sejumlah upaya antisipasi berupa penyemprotan. Baik yang dilakukan secara manual, hingga menggunakan mobil water cannon milik Polres Bangli.

Upaya tersebut dilakukan sebab pihaknya sadar bahwa di wilayah Banjar Serokadan terdapat 150 orang warga yang merupakan Pekerja Migran Indonesia (PMI).

Penerimaan CPNS Tahun 2020 Kemungkinan Ditiadakan, Begini Penjelasan Menpan RB

Kurangi Beban Operasional, Pemkab Banyuwangi Fasilitasi Sopir Logistik Rapid Test Gratis

Gus Sukarta Tak Terpengaruh Atas Pertemuan Prabowo-Airlangga, Tegaskan Koalisi di Bali Fleksibel

Dilain sisi, terdapat sebuah pandangan bahwa virus corona merupakan imported case dari para PMI yang kembali ke wilayahnya.

“Jadi sudah sejak awal kami telah melakukan upaya antisipasi dengan penyemprotan tiga kali dalam sepekan. Dan setelah terbentuknya satgas gotong royong, penyemprotan kami lakukan sesuai dengan SOP kesehatan dan intensitasnya ditingkatkan dua hari sekali,” ujarnya Selasa (7/7/2020)

Tak hanya itu, satgas gotong royong juga menyiapkan jading desinfektan di balai banjar.

Sehingga masyarakat banjar bisa mengambil sendiri desinfektan untuk penyemprotan secara mandiri di kediamannya.

Kata Dewa Oka yang juga Bendesa Adat Serokadan itu, upaya tersebut dilakukan sebab penyemprotan dijalan dinilai kurang mubazir.

Ini mengingat aktifitas masyarakat lebih banyak berada didalam ataupun pekarangan rumah.

Halaman
1234
Penulis: Muhammad Fredey Mercury
Editor: Wema Satya Dinata
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved