Breaking News:

Berita Banyuwangi

Menteri KKP Minta Banyuwangi Tingkatkan Produksi Sidat

Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo meminta Banyuwangi meningkatkan produksi sidat

Surya/Haorrahman
Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo, saat melihat pengolahan sidat di PT Iroha Sidat Indonesia (ISI). 

TRIBUN-BALI.COM, BANYUWANGI - Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo meminta Banyuwangi meningkatkan produksi sidat.

"Potensi sidat ini sangat besar. Kami minta agar Banyuwangi bisa meningkatkan produksinya," kata Edhy, saat mengunjungi pabrik pengelolaan sidat, PT Iroha Sidat Indonesia (ISI) yang merupakan bagian dari PT Suri Tani Pemuka, anak usaha PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) di Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (10/7/2020).

Saat ini Indonesia berada di urutan ke-10 negara pengekspor sidat.

Namun berbicara kualitas, sidat atau yang juga dikenal dengan unagi itu, Indonesia termasuk yang terbaik di dunia.

"Banyak permintaan sidat dari berbagai negara, karena kualitas sidat Indonesia termasuk Banyuwangi merupakan yang terbaik di dunia. Satu kilogram sidat dihargai Rp.500.000," kata Edhy.

Untuk itu Edhy meminta warga Banyuwangi bisa didorong untuk budidaya sidat.

"Seperti pabrik ini bisa menjadi semacam plasma bagi masyarakat untuk bisa budidaya sidat," kata menteri 47 tahun itu.

PT ISI bisa memproduksi 100 ton sidat tiap tahunnya.

Head of Aquaculture Division JAPFA Ardi Budiono menyampaikan, selain proses produksi terintegrasi, juga menerapkan budidaya sidat yang berkelanjutan melalui sistem restocking.

"Kami selalu memastikan sidat yang kami budidayakan akan kami kembalikan ke alam. Sejak tahun 2015, kami mengembalikan lebih dari 250 ribu ekor sidat ke habitatnya," kata Ardi.

Produk sidat telah diolah menerapkan standar produksi dan kualitas mutu internasional, sehingga dapat diterima di pasar luar negeri.

Pada Januari hingga Juni 2020, Divisi Aquaculture JAPFA telah mengekspor senilai Rp216 miliar produk budidaya perikanan berupa produk budidaya perikanan berupa produk olahan sidat, tilapia dan udang yang didistribusikan 14 negara di benua Amerika, Eropa, Afrika dan Asia.

Ardi menjelaskan, Divisi Aquaculture JAPFA juga bekerjasama dengan Kindai University Jepang dan Universiti Malaysia Sabah, mendirikan Research and Development Centre yang akan menjadi pusat riset dan pelatihan budidaya perikanan.

"Melalui fasilitas ini, diharapkan industri budidaya perikanan termasuk sidat, dapat semakin berkembang dan membawa dampak positif bagi masyarakat," tambah Ardi.

(surya/haorrahman)

Editor: Irma Budiarti
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved