Citizen Journalism

Problematika Permanenisasi Pembelajaran Jarak Jauh Pasca Pandemi

Transisi metode pembelajaran tradisional yang semula berlangsung dengan tatap muka di kelas berubah menjadi pertemuan melalui media online

Editor: Irma Budiarti
Pexels
Ilustrasi pembelajaran jarak jauh. 

Laporan Global Competitiveness Index (GCI) 2019 yang dirilis World Economic Forum menyebutkan, peringkat daya saing Indonesia turun 5 peringkat ke posisi 50 dari 141 negara yang disurvei.

Masa pandemi telah mengajarkan bagaimana susahnya para pengajar dan orangtua terutama bagi siswa pendidikan dasar, berkolaborasi dan beradaptasi memanfaatkan teknologi untuk mendukung kegiatan belajar putra putri mereka.

Momentum ini merupakan kesempatan untuk eskalasi kualitas sumber daya manusia Indonesia seperti yang dipriroritaskan sebagai program nasional dalam Kabinet Indonesia Maju, sekaligus tantangan untuk mempersiapkan semua komponen pendukung di dalamnya.

Problematika sistem pembelajaran jarak jauh pada dasarnya dapat dibedakan menjadi dua kelompok besar, yaitu kesiapan sumber daya manusia pendukung dan ketersediaan sarana prasarana pendukung.

Pertama, menyoal sumber daya manusia, berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) yang dilaksanakan Badan Pusat Statistik pada tahun 2019 dilaporkan bahwa diperkirakan sebanyak 41,74 persen penduduk Indonesia yang berusia 15 tahun ke atas hanya menamatkan pendidikan SD/sederajat ke bawah.

Selain itu, tantangan lain dari sistem pembelajaran jarak jauh adalah peran ganda dari orangtua terutama bagi siswa di bangku pendidikan dasar.

Bagi sebagian besar orangtua memerankan peran sebagai pencari nafkah dan mendampingi anak mereka untuk belajar secara penuh merupakan sebuah dilemma.

Pendidikan jarak jauh mungkin hanya akan sangat efektif untuk jenjang pendidikan menengah ke atas dibandingkan dengan jenjang menengah ke bawah.

Sebagian besar penduduk di wilayah perdesaan dan bekerja di sektor informal akan kehilangan kesempatan untuk bekerja jika harus mendampingi anaknya sekolah.

Tidak dapat dipungkiri pembelajaran jarak jauh menuntut kolaborasi antara pendidik dan orangtua serta lingkungan sekitar agar dapat berjalan dengan efektif.

Orangtua bertanggung jawab sebagai teman dan motivator belajar sedangkan guru berperan sebagai kontrol dan pemandu siswa memastikan semua materi tersampaikan dengan baik .

Tantangan berikutnya adalah kesiapan sarana prasarana pendukung.

Disparitas kondisi geografis yang berbeda-beda antar satu wilayah.

Menurut data pada laman resmi Badan Pusat Statistik tahun 2018 terdapat 6.676 desa atau kelurahan di Indonesia yang tidak memiliki menara BTS dan tidak ada sinyal telepon seluler.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved