Pendidikan Kesehatan Reproduksi di Sekolah Terbentur Padatnya Kurikulum
Program Manager Get Up Speak Out PKBI Kisara Bali, Eka Purni mengatakan penelitian ini juga merupakan kerjasama Rutgers WPF dan Dinas Pendidikan Kota
Penulis: Putu Supartika | Editor: Wema Satya Dinata
Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Melalui aplikasi zoom, Kisara PKBI Bali memaparkan hasil penelitian Dampak Pendidikan Kesehatan Reproduksi (Kespro) di Denpasar pada Senin (27/7/2020) siang.
Penelitian ini dilakukan di 5 SMP percontohan yang ada di Kota Denpasar yang dimulai sejak tahun 2017 lalu.
Program Manager Get Up Speak Out PKBI Kisara Bali, Eka Purni mengatakan penelitian ini juga merupakan kerjasama Rutgers WPF dan Dinas Pendidikan Kota Denpasar.
"Pendidikan reproduksi yang diberikan terkait mental, emosianal, dan fisik. Di sini tidak hanya mendidik agar tidak menggunakan pakaian terbuka, tapi juga mendidik agar tidak memperkosa.
• Ini Cara Efektif Mengatasi Sakit Kepala Tanpa Minum Obat
• Deksametason Jadi Obat Pasien Covid-19 Terbaru yang Digunakan di Jepang
• 5 Zodiak Terlahir Paling Bahagia, Selalu Punya Cara Mengubah Suasana Hati Buruk Menjadi Baik
Guru tak hanya dituntut paham materi namun bisa memfasilitasi diskusi kepada siswa," katanya.
Sementara itu, Wina Baeha dari Rutgers WPF mengatakan penelitian ini dilakukan di tiga daerah di Indoensia yakni Bandar Lampung dengan alasan mayoritas warganya beraga Islam, Semarang yang merupakan kota pesisir, dan Denpasar dengan alasan daerah yang memiliki adat istiadat kuat serta terpengaruh pariwisata yang kuat.
"Pelaksanaan di Denpasar melalui dua jalur yakni jalur sekolah dan pemerintah dengan materi yang dianggap paling penting yakni hubungan, komunikasi dengan orang tua, pacaran, dan emosi.
Hasilnya sebagian siswa merasa ada perubahan dalam diri mereka lebih banyak saat diberikan materi ini," katanya.
Untuk mencari dampak pendidikan kesehatan reproduksi di Denpasar dilakukan interview kepada 48 siswa dari 5 sekolah percontohan dan 12 kali Focus Groud Discusion (FGD).
"Lima domain yang dibahas yakni pubertas, ketertarikan dan pacaran, perundungan, gender dan kepercayaan diri. Kontribusi dalam 5 domian ini yakni pubertas 79, ketertariakn dan pacaran 38, bullying 25, gender 9 dan kepercayaan diri 7," katanya.
Pihaknya memberikan rekomendasi terkait pendidikan kesehatan reproduksi di Denpasar yakni dibutuhkan kerjasama antar pihak sekolah pemerintah dan media agar pendidikan kespro ini bisa tetap dilaksanakan di Kota Denpasar.
"Media juga dapat mempromosikan pendidikan dan hak kespro anak muda lewat berita, liputan, dan diskusi publik dengan menggunakan pendekatan jurnalisme empati," katanya.
Kepala SMPN 3 Denpasar, Wayan Murdana yang sekolahnya menjadi percontohan mengatakan dalam pelaksanaan pendidikan kespro di sekolahnya pihaknya melibatkan guru Bimbingan Konseling (BK).
Akan tetapi dikarenakan terkendala kurikulum yang terlalu padat, tak bisa banyak pendidikan yang bisa diberikan kepada siswa.
• 7 Cara Menghemat Biaya Pesta Pernikahan, Apa Saja yang Harus Dipertimbangkan?
• Vaksin Covid-19 Sinovac Dikhawatirkan Jadi Bisnis Antara Indonesia-China
• Remaja Harus Tahu 5 Kebiasaan Merawat Kulit Ini Agar Tidak Menyesal Saat Tua
"Kami berikan satu jam pelajaran untuk BK di kelas dan di sana diselipkan pelajaran kespro. Karena tidak hanya kepintaran saja yang diperlukan namun juga perilaku anak dan kejujuran," katanya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/tangkap-layar-pemaparan-hasil-penelitian-dampak-pendidikan-kesehatan.jpg)