Kerugian Mencapai Rp 8 Miliar, Ibu-ibu Korban Arisan Online Melapor ke Polda Bali

Ibu-ibu yang menjadi korban arisan online di Denpasar, Bali, mendatangi Ditreskrimum Polda Bali Senin (27/7/2020).

Tribun Bali/I Wayan Erwin Widyaswara
Foto: Anastasia (tengah) saat memberikan keterangan ke awak media usai mendatangi Ditreskrimum Polda Bali, Senin (27/7/2020) 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Ibu-ibu yang menjadi korban arisan online di Denpasar, Bali, mendatangi Ditreskrimum Polda Bali Senin (27/7/2020).

Kedatangan mereka untuk menanyakan perkembangan penanganan kasus yang sebelumnya telah dilaporkan.

"Kedatangan kami untuk menanyakan perkembangan dari penanganan kasus ini. Yang mana kami ingin mencari keadilan, mengingat jumlah korban saat ini sudah mencapai 179 orang dengan kerugian Rp 8 miliar," kata salah satu korban arisan online yang datang ke Polda Bali, Anastasia Novalina Handoko (32), saat dikonfirmasi Selasa (28/7/2020).

Dia mengatakan, bulan lalu pihaknya juga telah melaporkan kasus ini ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wilayah Bali dan Nusa Tenggara.

Waspada, 4 Makanan Ini Dapat Menyebabkan Kista, Nomor 3 Sering Dikonsumsi Banyak Orang

Pelatih Timnas Shin Tae-yong kembali ke Indonesia, Begini Sambutan Ketum PSSI dan Indra Sjafri

3 Drakor Ini Memberikan Pelajaran Positif, Bisa Dipakai Pedoman untuk Hidup Anda

Mengenai penanganan kasus di Polda Bali, Anastasia mengaku progresnya sudah bagus dan bulan depan diperkirakan sudah akan gelar perkara.

Anastasia mendatangi Polda Bali bersama dengan pengacaranya yakni Made Sugiarta dan Anisa Defbi Mariana dari Kantor Hukum ARJK Denpasar.

Dari informasi yang ia dapat dari Polda Bali, terduga pelaku IYK sudah diperiksa polisi.

Dalam kasus arisan online ini, Anastasia mengaku rugi Rp 360 juta.

Anastasia mengaku ikut menjadi anggota arisan online tersebut sejak 30 Agustus 2019.

Sementara itu, korban lainnya rata-rata mengalami kerugian sebesar puluhan juta.

Kini mereka pun menuntut uangnya segera kembali.

Anastasia mengaku ikut arisan ini lantaran sudah berteman dengan pelaku yang merupakan wali murid di salah satu sekolah swasta elite di Renon, Denpasar, Bali.

Terduga pelaku merekrut anggota arisan sesama wali murid.

Kemudian wali murid ini mengajak teman lainnya.

Sementara itu, pengacara korban, Made Sugiarta mengapresiasi penyidik Ditreskrimum yang sudah memproses dumas.

Sugiarta berharap dumas yang masuk bisa naik kelas ke tahap penyidikan.

“Kami sudah serahkan bukti penyetoran uang ke penyidik baik melalui transfer atau tunai,” ucapnya.

Hal senada disampaikan Anisa.

“Kami menyayangkan sikap pelaku yang enggan menemui korban, bahkan terkesan menghindar dari tanggungjawab. Kami minta penyidik segera menuntaskan laporan korban,” terang Nisa.(*).

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved