Breaking News:

Harga Pasaran Brompton di Indonesia Melambung Tinggi, Permainan Oknum ?

Sepeda lipat jenis "Brompton" kini mendadak digandrungi sebagian masyarakat Indonesia di kelas middle up.

Istimewa
Ilustrasi pesepeda Brompton 

Laporan wartawan Tribun Bali, Adrian Amurwonegoro

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Sepeda lipat jenis "Brompton" kini mendadak digandrungi sebagian masyarakat Indonesia di kelas middle up.

Jumlah pasokan produksi yang tidak sebanding dengan permintaan, membuat sepeda "Sultan" ini harganya naik hingga berkali lipat karena sudah menjadi komoditas konsumtif.

Sepeda ini hanya diproduksi di negara Inggris dan distributor resmi saat ini satu-satunya hanya ada di DKI Jakarta.

Ketua Brompton Owners Bali, Kanoraituha Wiwin mengindikasikan adanya oknum yang sengaja membeli Brompton untuk kemudian dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi.

4 Makanan Ini Bisa Meredakan Migrain, Seafood hingga Makanan Bermagnesium

Tips Membuat Si Kecil Betah di Rumah Saat Pandemi Masih Melanda

Tes Kepribadian: Pilih Wanita Percaya Diri, Pilihanmu Ungkap Kekuatanmu dan Cara Menghadapi Masalah

Sebelumnya, merk Brompton mengemuka dalam kasus penyelundupan bersama suku cadang motor Harley Davidson di dalam pesawat Garuda Indonesia.

Kendati demikian, meski harga yang bisa dikatakan "selangit" untuk barang jenis sepeda, masyarakat Indonesia tetap berselera untuk menyerapnya.

"Menurut saya harga Brompton saat ini sudah tidak masuk akal, produk memang jumlahnya terbatas dan ada oknum spekulan yang sengaja beli untuk dijual kembali dengan mempermainkan harga karena tau orang sedang banyak mencari, dan memang kecenderungan harga Brompton tidak pernah turun, saya saja beli bekas tahun 2010 dengan Rp 16 juta bisa dijual Rp 25 juta," ujar Wiwin kepada Tribun Bali, Minggu (2/8/2020)

Lanjut dia, akan tetapi sah-sah saja orang membeli untuk dijual kembali hanya saja permainannya memang di "latah" nya permintaan pasaran membuat harga semakin melambung.

"Tapi kembali ke orangnya mau pakai sepeda ini untuk lifestyle kesehatan atau ikut-ikutan tren latah saja, kalau saran saya mending sabar tahan dulu jangan beli sekarang, kalau misal tidak ada yang mencari dan membeli dengan harga tinggi otomatis harganya kembali logis, kalau saya memang suka kan sudah sejak lama dan kebetulan menjadi tren saat ini," imbuh dia.

Halaman
12
Penulis: Adrian Amurwonegoro
Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved