Breaking News:

Corona di Bali

Kisah Wanita Buleleng Hamil Tua Pontang Panting akibat Hasil Rapid Test Berubah-ubah, Ujungnya Duka

Mengingat waktu kelahirannya terlambat, ia bersama suami pun panik, karena air ketuban tak kunjung pecah.

Dok istimewa
Pasutri dan keluarganya saat menguburkan jenazah anak keduanya di Setra Desa Adat Patemon, Kecamatan Seririt, Buleleng.  

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Duka mendalam dirasakan oleh pasangan suami istri (pasutri) asal Desa Patemon, Kecamatan Seririt, Buleleng, Bali Made Dwi Widiantari (28) dan Ketut Doni Yudarma Yasa (26).

Pasalnya pasutri ini harus kehilangan anak keduanya, yang baru saja dilahirkan pada 14 Juli 2020 kemarin.

Dihubungi melalui saluran telepon, pada Sabtu (8/8/2020), Widiantari menuturkan, usia kandungannya saat itu sudah sembilan bulan lebih empat hari.

Mengingat waktu kelahirannya terlambat, ia bersama suami pun panik, karena air ketuban tak kunjung pecah.

Widiantari lantas mendatangi dokter kandungannya, untuk berkonsultasi.

Oleh dokter kandungannya, Widiantari kemudian dirujuk ke salah satu rumah sakit swasta di kota Singaraja, Buleleng, Bali, agar segera mendapatkan tindakan yang lebih intensif.

"Dokter kandungan saya itu awalnya menyebut saya tidak bisa melahirkan normal karena berat bayinya saat di USG mencapai 4.2 kilogram," tutur Widiantari.

Berangkat dari surat rujukan itu, Widiantari pun mendatangi salah satu rumah sakit swasta yang ada di Kota Singaraja, pada 13 Juli 2020 sekitar pukul 07.00 Wita.

Di sana, pihak rumah sakit langsung menjalankan protokol kesehatan, dengan melakukan rapid test terhadap Widiantari.

Hasilnya, diakui Widiantari, sempat reaktif.

Halaman
1234
Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved