Breaking News:

Mampu Tingkatkan Produksi, Dinas PKP Bangli Kembali Sosialisasikan Penggunaan Pupuk Berimbang

Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dinas PKP) kembali menyosialisasikan penggunaan pupuk berimbang

Dinas PKP Bangli
Panen - Dinas PKP Bangli bersama Kodim 1626 Bangli ketika panen padi varietas Cigeulis di subak Tingkadbatu, Desa Jehem, Tembuku, Bangli, Bali, Jumat (21/8/2020). 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dinas PKP) kembali menyosialisasikan penggunaan pupuk berimbang.

Upaya ini bertujuan meningkatkan produksi padi di wilayah Bangli.

Kepala Dinas PKP Bangli, I Wayan Sarma mengatakan, penggunaan pupuk berimbang sejatinya bukan merupakan hal baru.

Kendati demikian, pihaknya menilai masih banyak petani di Bangli yang belum mau menerapkan penggunaan pupuk berimbang ini.

“Para petani selama ini masih menggunakan satu jenis pupuk saja, yakni pupuk urea. Sedangkan pada pupuk berimbang ini juga terkandung pupuk kalium dan fosfor atau NPK. Disamping itu juga penggunaan pupuk organik berupa pupuk kandang padat,” ujarnya, Minggu (23/8/2020).

Menurut Sarma, kecenderungan petani menggunakan satu jenis pupuk saja berkaitan dengan biaya yang lebih murah.

Disamping juga minimnya regenerasi petani padi sawah, sebab rata-rata petani padi sawah berusia di atas 50 tahun.

“Oleh sebab itu penggunaan pupuk berimbang ini agak sulit diterima,” katanya.

Lanjut Sarma, ada perbedaan antara penggunaan pupuk urea dengan pupuk berimbang.

Seperti dari segi kualitas, dimana rendemen atau kemampuan gabah untuk menghasilkan beras lebih besar daripada hanya menggunakan pupuk urea.

“Kalau menggunakan NPK, lima kilogram gabah bisa menghasilkan satu kilogram beras. Sedangkan tanpa NPK, bisa jadi tujuh kilogram gabah menghasilkan satu kilogram beras. Dengan kata lain, jumlah produksi beras yang dihasilkan lebih banyak,” jelasnya.

Upaya sosialisasi dilakukan dengan penerapan langsung pada demplot (percontohan) padi varietas Cigeulis di wilayah Subak Tingkadbatu, Desa Jehem, Tembuku, dengan luas lahan sekitar 0,36 hektare.

Dari hasil panen, Sarma menyebut total beras yang dihasilkan mencapai 6,1 ton gabah per hektare.

“Jadi tujuan sosialisasi kembali ini adalah untuk meningkatkan mutu intensifikasi tanaman. Sebab produksi padi kita hanya mampu ditingkatkan dengan perbaikan teknologi pertanian, tidak mampu ditingkatkan dengan meningkatkan luas areal pertanian. Karenanya diperlukan penggunaan pupuk berimbang, sebab penggunaan pupuk ini juga berimplikasi pada kesuburan tanah,” ucap dia.

(*)

Penulis: Muhammad Fredey Mercury
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved