Budi Daya Rumput Laut di Lembongan Menggeliat, Harga Sempat Tinggi, Kini Anjlok Menjadi Rp 8 Ribu

Saat budi daya rumput laut di Nusa Lembongan kembali menggeliat, petani dihadapkan masalah baru, yaitu harga belum konsisten, bahkan kini anjlok

Penulis: Eka Mita Suputra | Editor: Irma Budiarti
Tribun Bali/Eka Mita Suputra
Aktivitas budi daya rumput laut di Nusa Lembongan, Klungkung, Bali, beberapa waktu lalu. 

TRIBUN-BALI.COM, KLUNGKUNG - Lima bulan sudah industri pariwisata di Nusa Lembongan, Klungkung, Bali, lumpuh akibat pandemi Covid-19.

Hal ini membuat mayoritas masyarakat di Desa Lembongan, kembali menekuni budi daya rumput laut yang sempat "mati suri" dalam beberapa tahun.

Namun setelah budi daya rumput laut kembali menggeliat, petani dihadapkan pada masalah baru.

Yakni harga komoditi rumput laut yang belum konsisten, dan dalam beberapa hari terakhir cenderung merosot.

Perbekel Desa Lembongan Ketut Gde Arjaya menjelaskan, sebelum pariwisata berkembang, aktivitas budi daya rumput laut menjadi komoditi utama di Pulau Lembongan dan Ceningan.

Hanya saja semenjak pariwisata berkembang, masyarakat mulai meninggalkan budi daya rumput laut.

Bahkan harga rumput laut yang anjlok dan perkembangan rumbut laut yang kurang baik, membuat budi daya rumput laut ini sempat "mati suri" saat kejayaan patiwisata Nusa Lembongan.

"Kami menyadari pariwisata itu sangat sensitif dengan isu-isu, sehingga tidak bisa sepenuhnya mengandalkan sektor pariwisata. Pada Agustus 2018 lalu, kami serta Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan membuat demplot rumput laut. Ini untuk menggairahkan lagi budi daya rumput laut di Lembongan," ungkap Arjaya.

Ternyata hasil demplot tersebut bagus, dan menampik anggapan jika perkembangan aktivitas pariwisata yang membuat pertumbuhan rumput laut di Nusa Lembongan kurang baik.

Dengan hasil demplot itu, lalu dilakukan kembali pendataan bagi warga yang antusias kembali budi daya rumput laut.

"Lalu kebetulan sejak bulan Maret 2020 ini, ada pandemi Covid-19. Pariwisata di Nusa Lembongan terpuruk. Karena tidak ada kerjaan, warga kembali menekuni budi daya rumput laut," ungkap Ketut Gde Arjaya.

Bahkan menurutnya, saat ini sekitar 90 persen masyarakat di Desa Lembongan yang dulu berkecimpung di pariwisata, saat ini memilih kembali budi daya rumput laut.

Hingga ada pemandangan berbeda jika ke Nusa Lembongan, saat ini ladang rumput laut sudah sampai di sekitar jembatan kuning.

Bahkan harga rumput laut sempat stabil di angka Rp 14 ribu per kilogram.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved