Konsul Kehormatan Rusia di Bali akan Galakkan Ekspor Produk Lokal ke Rusia

Saya ingin menggalakkan ekspor buah lokal Bali, seperti mangga, manggis, buah naga, termasuk produk seperti kopi, vanili.

Penulis: Kander Turnip | Editor: Kander Turnip
Tribun Bali/Kander Turnip
Konsul Kehormatan Rusia di Bali, I Gede Dharma Wijaya (paling kanan) menerima kunjungan Konsul Kehormatan Swiss di Bali, Gerhard L Nutz (kedua dari kiri), di kantor Konsul Kehormatan Rusia di Bali, di Gedung NDC Jalan Gatot Subroto II No 5, Denpasar, Bali, Jumat (4/9/2020). 

Konsul Kehormatan Rusia di Bali akan Galakkan Ekspor Produk Lokal ke Rusia

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Konsul Kehormatan ( Honorary Consul) Rusia di Bali, I Gede Dharma Wijaya ingin menyambungkan UMKM di Bali dengan pengusaha Rusia untuk kerjasama ekspor sehingga meningkatkan perekonomian pengusaha lokal Bali.

Hal itu dikatakan Gede Dharma di sela-sela kunjungan Honorary Consul of Switzerland ( Konsul Kehormatan Swiss di Bali), Gerhard L Nutz di kantor Konsul Kehormatan Rusia, di Gedung NDC ( Niki Diagnostic Center) Jalan Gatot Subroto II No 5, Denpasar, Bali, Jumat (4/9/2020).

“Sebenarnya untuk ekspor ke Rusia itu tidak mesti pakai kontainer-kontainer. Mengirim 20 kg atau 30 kg saja dikirim ke si A atau si B di Rusia itu sudah bisa disebut ekspor. Saya ingin menggalakkan ekspor buah lokal Bali, seperti mangga, manggis, buah naga, termasuk juga produk-produk seperti kopi, vanili, apapun produk Bali. Mereka (pengusaha Rusia, Red) mau menerima, misalnya kita kirim 50 kg atau 100 kg,” ujar Dharma.

Namun untuk mengekspor dengan jumlah puluhan atau ratusan kilogram tersebut, diperlukan penerbangan langsung Bali- Rusia agar ongkosnya lebih murah dan proses sampainya cepat ke tujuan.

Untuk diketahui, beberapa waktu lalu sebenarmya sudah ada penerbangan langsung Bali- Rusia PP yang dilayani Rossiya Airlines, namun berhenti karena alasan tertentu. Apalagi kondisi pandemi Covid-19 menyebabkan penerbangan internasional ke Bali belum dibuka.

“Tapi sementara menunggu (penerbangan, Red) itu, kita jangan diam. Saya tetap approach (pendekatan) dengan mereka dan saya sudah bertemu dengan pengurus Kamar Dagang dan Industri ( Kadin) Moskow waktu acara Festival Indonesia Moskow tahun 2019 lalu. Sudah saya undang ke sini. Dan mungkin akhir tahun mereka akan datang ke sini, kalau sudah ada penerbangan,” kata Dharma.

Untuk meningkatkan produksi dan kualitas buah lokal Bali, kata Dharma, pihaknya akan bertemu dengan pimpinan salah satu universitas di Denpasar untuk bekerjasama karena mereka memiliki Fakultas Pertanian.

Dengan pendampingan Fakultas Pertanian universitas tersebut, kata Dharma, pihaknya bisa bekerjasama untuk memberdayakan lahan yang selama ini terbengkalai. Soalnya, ada beberapa pemilik lahan kosong di Bali dan mereka ingin menanam komoditi apa yang bisa diekspor ke Rusia.

“Supaya nanti petani dan pemilik lahan pertanian itu didampingi oleh Fakultas Pertanian. Sebab permintaan produk lokal Bali, seperti buah lokal, kopi, dan lain-lainnya, banyak diminta pengusaha Rusia,” tegas Dharma.

Setelah bertemu dengan pimpinan universitas tersebut, kata Dharma, pihaknya kemudian akan bertemu dengan pihak perbankan dan mempresentasikan, bahwa produk-produk pertanian Bali perlu pembiayaan dari perbankan.

“Kita akan menyambungkan supaya para petani dan pengusaha UMKM ini ada yang membiayai lah. Saya akan prioritaskan UMKM di Bali. Saya nanti minta datanya dari Kadin Bali atau Dinas Perdagangan dan pihak terkait lainnya. Kita kerja keras, meningkatkan kesejahteraan rakyat Bali melalui kerjasama dengan pengusaha Rusia,” kata Dharma.

Saat menerima Honorary Consul Swiss di Bali Gerhard L Nutz, Dharma didampingi DR Gusti Ngurah Supartha Djelantik SH MH (Konsultan Hukum) dan Fanina Yulianthi MCom MPA (Sekretaris).

Perbincangan berlangsung hangat dan akrab disertai tawa lepas karena Gerhard yang tinggal di Bali sejak tahun 1985, sejak beberapa tahun lalu sudah menjadi warga negara Indonesia dan menikah dengan wanita Bali yang ternyata dikenal oleh Dharma dan Ngurah Supartha.

“Ya beginilah di Bali. Kita berbincang-bincang 15 menit saja, sudah menjadi saudara,” ujar Gerhard diselingi tawa semua yang hadir.

Gerhard yang juga memegang jabatan Secretary of Bali Consular Corps kemudian menjelaskan tentang seluk-beluk konsul negara-negara lain di Bali, baik konjen maupun konsul kehormatan.

“Kita biasanya mengadakan acara pertemuan rutin konsul-konsul di Bali sebulan sekali, namanya Consul Lunch. Pada acara itu, biasanya kita saling bertukar informasi. Nanti Bapak Dharma bisa hadir dan memperkenalkan diri di acara tersebut. Tapi sejak pandemi sampai akhir tahun ini pertemuan itu ditiadakan sementara,” kata Gerhard. (*)

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved