Breaking News:

Penangkilan saat Pujawali di Pura Luhur Batukau Akan Dibatasi untuk Tekan Peningkatan Kasus Covid-19

pelaksanaannya tak seperti sebelumnya melainkan dilaksanakan secara terbatas hanya untuk 8 Desa Adat yang termasuk wewidangan desa adat Pekandelan

Tribun Bali/I Made Prasetia Aryawan
Suasana di areal depan Pura Luhur Batukau, Kecamatan Penebel, Tabanan, sebelum pelaksanaan Karya Pangurip Gumi. 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Karya Pujawali di Pura Luhur Batukau akan berlangsung mulai Rabu (16/9/2020) sampai dengan Jumat (18/9/2020) mendatang.

Namun, pelaksanaannya tak seperti sebelumnya melainkan dilaksanakan secara terbatas hanya untuk 8 Desa Adat yang termasuk wewidangan desa adat Pekandelan Pura Luhur Batukau.

Namun, pihak pengurus pura menegaskan pembatasan tersebut bukan untuk melarang umat tangkil saat Pujawali, namun lebih ke peningkatan penerapan protokol kesehatan (prokes).

8 Desa Adat yang menggelar pujawali terbatas hanya untuk desa adat Pekandelan Pura Luhur Batukau diantaranya Desa Adat Wongaya Gede, Keloncing, Batukambing, Bengkel, Amplas, Sandan, Tengkudak dan Penganggahan.

Terkait Penjadwalan Ulang Pemeriksaan Kesehatan Bakal Paslon, KPU Badung Koordinasi ke RSUP Sanglah

Klinik Putu Parwata Edukasi Peserta JKN-KIS Lewat Vlog

3 Zodiak Ini Bisa Bekerja di Bawah Tekanan, Pandai Menemukan Kelonggaran di Antara Berbagai Tekanan

Menurut Ketua Umum Pura Batukau, I Ketut Sucipto, keputusan yang diambil oleh Ida Kabayan dan Pengurus Pura Luhur Batukau ini sebagai antisipasi keamanan dan kenyamanan bersama selain tetap mematuhi protokol kesehatan Covid-19.

Sucipto menjelaskan, pembatasan saat pelaksanaan pujawali tersebut bukan untuk melarang umat tangkil kemudian melakukan persembahyangan di Pura Luhur Batukau.

Melainkan, pihak pengurus mengambil langkah pembatasan/pengetatan saat Pujawali sesuai dengan kesepakatan antara pengurus Pura dengan jajaran pengurus desa adat Pekandelan Sad Khayangan Jagat Bali Pura Luhur Batukau.

"Keputusan tersebut intinya bukan untuk mengucilkan warga.

Jika warga di luar desa adat ingin nangkil, silakan. Tapi harus ikuti protokol kesehatan.

Begitupun untuk umat yang akan nangkil juga silakan, tapi ikuti aturan mengenai protokol kesehatan," jelas Sucipto, Selasa (8/9/2020).

Disinggung mengenai pemedek yang kemungkinan ramai tangkil seperti Pujawali sebelumnya, Sucipto menyatakan tak masalah yang terpenting pamedek mengikuti protokol kesehatan.

Pihaknya juga mengaku sudah berkoordinasi dengan pihak Puskesmas setempat, Dinas Kesehatan, serta, Satgas Covid-19 untuk nantinya melakukan pengaturan pamedek agar tak sampai terjadi kerumunan.

"Kami mohonkan bagi umat hindu agar mau diatur.

Contohnya, antre agar tidak sampai ada kerumunan, masuknya secara bergiliran, maksimal 25 orang untuk persembahyangan di tiap pura.

Dua Pasien Covid-19 Disetubuhi dalam Mobil Ambulans, Noufal Bawa Ambulans ke Tempat Sepi

2 Pejabat Positif Covid-19, Kantor Setda Klungkung Didesinfeksi

Seluruh Fraksi DPRD Kota Denpasar Setujui Penetapan Ranperda APBD-P TA. 2020

 Untuk persiapan sudah kami siapkan. Protokol kesehatan sudah sejak awal kami terapkan," tandasnya.(*)

Penulis: I Made Prasetia Aryawan
Editor: Wema Satya Dinata
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved