Breaking News:

Pilkada Serentak

Soal Sejumlah Kader di Badung Mundur Massal, Begini Tanggapan DPP Golkar

Ketua Korwil Pemenangan Pemilu (PP) Wilayah Bali-NTB-NTT DPP Golkar, Gde Sumarjaya Linggih alias Demer mengaku pihaknya menghormati sikap para kader

Penulis: Ragil Armando | Editor: Wema Satya Dinata
tribunbali
Gde Sumarjaya Linggih alias Demer 

Pertama, Partai Golkar tidak sesuai dengan mandat dan arahan Munas pada tanggal 4 Desember 2019 lalu dimana memprioritaskan dan memberikan ruang penuh kepada kader yang ingin maju pada perhelatan Pilkada.

Kedua, Partai Golkar tidak menghormati mekanisme internal partai, terbukti dengan pemberian rekomendasi di Pilkada Badung 2020 tidak melalui prosedur oleh Partai Golkar dan Koalisi.

Ketiga, mengabaikan aspirasi kader dibawah sehingga kader merasa tidak dihargai. Padahal pada realitas politik pada Pilkada 2015 lalu, Partai Golkar mendukung Pasangan yang diusung oleh PDIP hasilnya tidak mendapat manfaat apapun. Salah satunya banyaknya penekanan dan penurunan jumlah kursi di DPRD Kabupaten Badung dan Provinsi Bali.

Keempat, meminta kepada Golkar Badung dan Bali untuk memberikan klarifikasi dan penjelasan kepada DPP tentang mekanisme dan proses yang telah dilalui oleh Golkar dan koalisi.

Kelima, pengurus Golkar Badung merasa kecewa dengan sikap Ketua Pemenangan Pemilu Wilayah Bali-NTB-NTT DPP Golkar Gede Sumarjaya Linggih dan Anggota Pemenangan Pemilu Wilayah Bali-NTB-NTT DPP Golkar Putu Yudha Suparsana yang terkesan arogan dengan elit Partai Golkar di Bali yang berakibat keputusan sepihak dalam Pilkada Badung. Sehingga kader dibawah menjadi korban.

Terakhir, meminta DPP Partai Golkar untuk menertibkan oknum-oknum DPP yang tidak memberikan informasi yang benar kepada Ketua Umum Golkar, Airlangga Hartarto.

Ia juga menyatakan pihaknya bersama dengan para PD merasa kecewa dengan sikap Partai Golkar yang tidak memberikan ruang kepada kader sendiri.

Selain itu juga dengan keputusan sepihak yang memberikan rekomendasi kepada Pasangan yang diusung oleh PDIP.

Padahal, Partai Golkar bersama NasDem dan Gerindra sudah lebih dulu berproses lebih dulu dengan membangun Koalisi Rakyat Badung Bangkit (KRBB). Hingga akhirnya tercipta Pasangan I Gusti Ngurah Agung Diatmika-Wayan Muntra (Diatmika-Muntra).

Hal inilah yang mendorong para kader dibawah merasa kecewa lantaran aspirasi tidak dihiraukan.

“Kami ingin menyampaikan satu hal kekecewaan terhadap proses mekanisme terbitnya rekomendasi di Pilkada Badung 2020. Aspirasi kami sama sekali tidak didengarkan oleh DPP,” katanya didampingi perwakilan PD se-Badung.

Bukan itu saja, pihaknya juga merasa tidak ada penjelasan ataupun klarifikasi dari DPD Golkar Bali ataupun DPP terkait rekomendasi tersebut.

Padahal, Sumantra menyebut jika sejak awal usulan dari masing-masing partai dan RRB adalah Diatmika-Muntra.

Namun, dimasa injury time berubah.

“Kami merasa sudah diluar batas kebijakan mekanisme Partai Golkar ini. Mohon ijin kami menyatakan mengundurkan diri dari kepengurusan baik dari tingkat Desa, Kecamatan, Kabupaten, dan Provinsi,” tegasnya.

Usai penyampaian aspirasi, saat disinggung apakah dengan ini pihaknya akan melakukan kampanye pemenangan kotak kosong.

Sumantra memilih menjawab secara diplomatis, ia meminta semua kader Golkar Badung, khususnya para loyalis Muntra untuk tetap menyalurkan hak pilihnya di Pilkada.

"Kita tetap meminta jangan golput, gunakan hak pilihnya, bisa saja di surat suara itu kan ada kotak gak ada gambarnya, yang pasti gunakan hak pilih," akunya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved