Breaking News:

Pasca Hari Raya Galungan, Volume Sampah di Klungkung Meningkat 5 Persen

Pasca hari raya Galungan kali ini, Rabu (16/9/2020), peningkatan volume sampah hanya 5 persen

Dok Klungkung
Sampah hari raya di Klungkung, Bali, yang telah dipilah dan siap diangkut oleh petugas Dinas Lingkungan Hidup, Kamis (17/9/2020). 

TRIBUN-BALI.COM, KLUNGKUNG - Pasca hari raya Galungan, produksi sampah di Klungkung, Bali, biasanya melonjak signifikan dibanding hari biasanya.

Namun untuk hari raya Galungan kali ini, Rabu (16/9/2020), peningkatan volume sampah hanya 5 persen.

Jumlah ini relatif jauh menurun daripada hari raya Galungan 6 bulan lalu.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Klungkung AA Kirana menjelaskan, pasca hari raya Galungan, Rabu (16/9/2020), produksi sampah di Klungkung tidak mengalami peningkatan yang terlampau signifikan.

Peningkatan hanya terpantau sekitar 5 persen.

14 Manfaat Bunga Kantil Bagi Kesehatan, Meredakan Kecemasan Hingga Kolesterol Tinggi

Polsek Kuta Utara Terus Gencar Gelar Sidak Protokol Kesehatan

Taman Tanpa Kembang yang Indah

Menurun drastis dibandingkan dengan pasca hari raya Galungan 6 bulan lalu, yang peningkatan volume sampah mencapai lebih dari 20 persen.

"Jika pasca Galungan sebelumnya, kami selalu kewalahan karena peningkatan sampah hari raya yang signifikan. Kalau saat ini, peningkatan sampahnya relatif kecil, yakni 5 persen dibandingkan hari biasa. Jika Galungan 6 bulan lalu, peningkatan volume sampah lebih dari 20 persen," ujar AA Kirana, Kamis (17/9/2020).

Sampah pasca hari raya ini masih didominasi sampah sisa upacara.

Menurut AA Kirana, tidak adanya peningkatan sampah dikarenakan masyarakat membatasi diri untuk beraktivitas saat hari raya.

Sebatang Pohon di Desa Bhuana Giri Karangasem Tumbang, Timpa Kabel Listrik & Tutup Badan Jalan

Neymar Diskors 2 Laga Oleh Otoritas Sepak Bola Prancis

Menjaga Kekebalan Tubuh Selama Pandemi Covid-19, Lakukan 7 Langkah Sederhana Ini

Jika biasanya persembahyangan dilakukan keliling ke banyak pura, saat ini masyarakat hanya melakukan persembahyangan di beberapa pura saja.

"Sebagai contoh di Pura Melanting di pasar. Jika sebelumnya membeludak warga yang mebanten, kemarin lebih lenggang. Masyarakat banyak ngayeng dari rumah. Begitu juga di pura lainnya, inilah yang membuat sampah hari raya di Klungkung tidak terlampau signifikan pada hari raya Galungan kali ini," jelas Kirana.

Sampah hari raya yang sebagaian besar sampah organik seperti canang, bunga, dan lainnya diolah ke TOSS (tempat olah sampah setempat) Centre di Dusun Karangdadi, Desa Kusamba, untuk dijadikan pupuk.

"Kita ada tiga metode pengolahan sampah sebagai pupuk, ada osaki, curah, dan black gold. Sampah hari raya itu semua kami olah jadi pupuk, dan gunakan untuk menyuburkan taman di sekitar Kota Semarapura," terang Kirana.

(*)

Penulis: Eka Mita Suputra
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved