Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Ngopi Santai

Taman Tanpa Kembang yang Indah

Dia menyadari pandemi Covid-19 belum berlalu bahkan makin menjadi-jadi pada serangan gelombang kedua.

Penulis: DionDBPutra | Editor: Eviera Paramita Sandi
AFP/PATRICIA DE MELO MOREIRA
Penyerang Portugal Cristiano Ronaldo memberikan acungan jempol dalam pertandingan Kualifikasi Grup B Euro 2020 antara Portugal vs Lituania di Stadion Algarve di Faro pada 14 November 2019. 

TRIBUN-BALI.COM - TUAN dan puan bersemangat pergi ke taman bunga tetapi tidak melihat setangkai kembang pun yang indah. Kesal kan?

Ya, begitulah kurang lebih perasaan CR7 alias Cristiano Ronaldo.

CR7 berkata begitu demi melukiskan kerinduannya akan atmosfer stadion yang diwarnai hingar-bingar suara penonton.

Lima bulan sudah sepak bola dunia bergulir tanpa pendukung.

Rekaman suara yang diperdengarkan panitia pertandingan di stadion tidak bisa menggantikan suara asli. Tanpa manusia yang menonton stadion sepak bola memang kehilangan roh.

Pekan lalu Cristiano Ronaldo menekankan pentingnya suporter bagi permainan sepak bola.

Dia menyadari pandemi Covid-19 belum berlalu bahkan makin menjadi-jadi pada serangan gelombang kedua.

Namun, pelaku sepak bola mesti mencari cara agar kehadiran penonton bisa terwujud selekasnya.

"Bermain tanpa penggemar seperti pergi ke taman dan Anda tidak melihat bunga," demikian CR7, bintang juara Serie A Italia Juventus.

Ronaldo mengatakan ini kepada wartawan setelah mencetak gol ke-100 untuk tim nasional ( timnas) Portugal pada laga Nations League A Group 3 melawan Swedia di Friends Arena, Stockholm, Selasa 8 September 2020.

Pertandingan Portugal melawan Swedia dimainkan tanpa penonton karena mengikuti protokol kesehatan virus corona di seluruh penjuru Eropa.

"Bermain tanpa penggemar seperti pergi ke sirkus dan tidak melihat badut," ujarnya.

Langkah Berani Jerman

Bundesliga Jerman rupanya tak mau berlama-lama membiarkan sirkus tanpa badut.

Negara itu akan kembali menjadi yang pertama di dunia menempuh langkah berani yakni menghadirkan penonton di stadion.

Bulan Mei 2020 ketika dunia masih muram dan cemas menghadapi ganasnya pandemi Covid-19 yang telah membunuh ratusan ribu orang di seluruh dunia, Jerman melanjutkan kompetisi Bundesliga tanpa penonton.

Langkah berani tersebut menginspirasi negara lain di Eropa dan berbagai belahan dunia memutar kembali roda kompetisi musim 2019-2020 yang sempat vakum pada Maret 2020.

Akhir pekan ini Jerman memulai langkah berani berikutnya, menghadirkan suara dan gemuruh riuh tepuk tangan penggemar bola di stadion.

Klub Borussia Dortmund akan membuka pintu bagi kedatangan sejumlahpenonton pada laga pembukaan Liga Jerman musim 2020/2021, saat mereka menjamu Borussia Moenchengladbach, Sabtu 19 September 2020.

Manajemen klub itu melalui lamannya, Rabu (16/9/2020) menyebut bahwa sejumlah kecil penonton akan dapat menyaksikan pertandingan Dortmund melawan Gladbach di Stadion Signal Iduna Park.

Tapi ada syaratnya bung. Hanya hanya warga Dortmund atau North Rhine-Westphalia yang akan mendapat akses masuk stadion.

"Tim-tim Bundesliga, klub dan asosiasi-asosiasi dapat bersuka cita pada hari ini, dan kami jelas memiliki perasaan tersebut di BVB," demikian pernyataan Chief Executive Dortmund Hans-Joachim Watzke seperti dikutip antaranews.com.

Watzke tidak gembira berlebihan. Dia pun menyadari uji coba ini menuntut disiplin tinggi menerapkan protokol kesehatan Covid-19.

Setiap klub harus bertanggungjawab agar tidak menambah klaster baru.

"Saya berterima kasih kepada semua orang di dunia politik yang berkontribusi dalam beberapa pekan terakhir untuk keputusan ini. Di saat yang sama, saya merasakan kewajiban yang besar. Kami sebagai klub bersama para penggemar akan menangani masa percobaan ini secara bertanggung jawab,” kata Watzke.

Bundesliga musim 2020/2021 mulai bergulir Jumat 18 September 2020.

Operator kasta tertinggi Liga Jerman tersebut akan melakuka uji coba menghadirkan kembali penonton ke stadion-stadion.

Syaratnya ketat. Hanya maksimal 20 persen kapasitas penonton yang boleh diisi, kebersihan mutlak serta tanpa alkohol.

Para pendukung tim tamu tidak akan diizinkan menyaksikan pertandingan di stadion.

Laga otomatis tanpa penonton manakala angka infeksi Covid-19 di kota tuan tim rumah terlalu tinggi dalam periode selama tujuh hari.

Artinya Bundesliga tetap selektif mengizinkan penonton hadir di stadion.

Tidak sembrono. Yang pasti langkah uji coba ini memberikan harapan baru. Setidaknya stadion tidak kosong melompong lagi.

Kursi tribune ada manusia yang menduduki. Mereka akan bersiul dan berdendang, bertepuk tangan, pukul jidat, menyapu dada, merintih atau meneteskan air mata karena timnya kalah.

Sepak bola sebagai perayaan kemanusiaan dengan seluruh dimensinya akan tampak lagi di sana.

Batasi 1.000 Penonton

Dari Jerman merembet ke Inggris.

Negeri kelahiran sepak bola yang memiliki liga paling kompetitif sejagat itu mulai memberi kesempatan bagi penonton langsung menyaksikan pertandingan di stadion.

English Football League (EFL) selaku pengelola tiga level kompetisi liga Inggris pada Selasa 15 September 2020 menyatakan pemerintah telah memberi izin dimulainya percobaan hingga 1.000 penonton umum
hadir di stadion.

Percobaan mulai bulan September 2020.

Perizinan itu merupakan langkah maju dari berbagai percobaan tingkat lokal di antara klub-klub yang mulai mengizinkan sejumlah kecil penonton hadir di stadion.

Tentu mereka harus disiplin menerapkan protokol kesehatan demi mencegah penularan Covid-19.

Agenda mengembalikan penonton ke stadion memang menjadi satu di antara prioritas pelaku sepak bola di Inggris.

Maklum sebagian besar klub mengalami gangguan keuangan karena hilangnya pos pendapatan dari penjualan tiket.

"EFL terus berkomunikasi dengan pemerintah terkait program pilot ini yang mungkin akan meliputi sejumlah pertandingan percontohan bulan September ini dengan batas 1.000 penonton," kata juru bicara EFL seperti dikutip Reuters.

Menurut dia, kehadiran penonton di stadion perlahan tapi pasti akan menopang finansial klub yang remuk sejak pandemi mengganas awal tahun ini.

"EFL yakin praktik jaga jarak tetap bisa diterapkan di tribun stadion dan pada saat bersamaan tak bisa mengabaikan bahwa dengan kehadiran penonton di pertandingan cukup membantu kondisi keuangan klub yang memang masih tertekan," ujarnya.

"Karena itu kesuksesan program percontohan ini menjadi aspek penting untuk bisa mendatangkan lebih banyak penonton secara aman ke stadion di masa mendatang," katanya lagi seperti dikutip Reuters.

EFL akan membawa hasil program percontohan tersebut sebagai bahan diskusi dan evaluasi dengan pemerintah Inggris untuk mengambil langkah berikutnya.

Misalnya apakah menambah kuota penonton yang boleh hadir langsung di stadion atau malah mengurangi jumlahnya.

Pekan lalu, operator Liga Premier menyatakan akan menunda program percontohan maksimal 1.000 penonton itu karena dianggap belum layak dan cenderung akan sangat merugikan.

Hanya saja Ketua Umum Liga Premier Richard Master memprediksi absennya penonton di stadion bakal membuat 20 klub peserta liga mengalami kerugian total hingga 700 juta poundsterling atau sekira Rp 13,3
triliun.

Bukan angka serawit cilik bukan? (dion db putra)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved