Breaking News:

Corona di Bali

Belum Semua Masyarakat di Desa Adat Paham Prokes,Disbudpora Klungkung Siapkan Pembinaan Upacara Adat

Dinas Kebudayaan, Pemuda dan Olah Raga (Disbudpora) Kabupaten Klungkung bakal menyiapkan kegiatan fokus pembinaan ke desa adat terkait pelaksanaan

Tribun Bali/Eka Mita Suputra
Kasi Lembaga Adat, Wayan Suwirga (kiri) mendampingi Kadis Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga Klungkung, Ida Bagus Jumpung Gede Oka Wedhana (kanan), Selasa (29/9/2020). 

TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA - Kegiatan upacara adat diimbau agar dilaksanakan dengan protokol kesehatan (Prokes), yakni secara sederhana, dengan jumlah terbatas dan waktu singkat.

Hanya saja belum semua masyarakat di desa adat memahami dan mematuhi imbauan tersebut.

Terkait hal ini, Dinas Kebudayaan, Pemuda dan Olah Raga (Disbudpora) Kabupaten Klungkung bakal menyiapkan kegiatan fokus pembinaan ke desa adat terkait pelaksanaan protokol kesehatan saat penyelenggaraan upacara adat.

Surat Edaran Bersama PHDI Provinsi Bali dan MDA Provinsi Bali, serta Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 487/GugusCovid19/IX/2020 tentang Penguatan Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 di Bali, kegiatan ritual keagamaan diimbau untuk digelar dengan sederhana, melibatkan peserta terbatas, dan hanya digelar dalam waktu sehari.

Golkar Bali Optimis Raih Kemenangan di Pilkada Bangli, Tunjuk Wayan Gunawan Jadi Panglima Perang

Update Harga Hp Oppo Akhir September 2020: Seri A31 Masih Rp 3 Jutaan, Reno4 F akan Masuk Indonesia

BREAKING NEWS: Diduga Depresi Karena Permasalahan Keluarga, Seorang Pelajar di Bangli Gantung Diri

Hal ini untuk mencegah  klaster upacara adat, yang sempat berkontibusi terhadap peningkatan kasus Covid-19 di Bali.

“Imbauan itu sudah disosialisasikan oleh Majelis Desa Adat (MDA) agar bisa diikuti masyarakat,” ujar Kasi Lembaga Adat, Wayan Suwirga mendampingi Kadis Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga Klungkung, Ida Bagus Jumpung Gede Oka Wedhana, Selasa (29/9/2020).

Hanya saja tidak semua masyarakat di desa adat dapat mematuhi imbauan tersebut.

 Bahkan Suwirga mengaku mendapat informasi, ada desa adat yang tetap melaksanakan upacara adat seperti biasa.

Serta ada sentilan di masyarakat, yang membandingkan ritual keagamaan dengan kondisi pasar tradisional yang selalu ramai dan tidak ada pembatasan.

“ Kadang ada pada paruman  desa, ada warga yang mempertanyakan,  kenapa tajen dan pasar bisa (ramai dikunjungi), sedangkan ngodalin tidak bisa. Jadi muncul bahasa-bahasa seperti itu," ungkapnya.

Halaman
123
Penulis: Eka Mita Suputra
Editor: Wema Satya Dinata
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved