Massa PKI Ditangkap,Dibunuh & Dibuang di Hutan Seusai G30S, Sejarawan Beber Fakta Pilu di Tahun 1965

Setelah peristiwa G30S/PKI yang membuat 7 jenderal TNI menjadi korban kebiadaban kemanusiaan, rentetan peristiwa memilukan terjadi pada tahun tersebut

Editor: Wema Satya Dinata
Tribun Timur
Monumen Kesaktian Pancasila untuk mengenang wafatnya 6 Jenderal dan 1 Perwira dalam Peristiwa Gerakan 30 September 1965 / G30S 1965 

TRIBUN-BALI.COM - Gerakan 30 September atau dikenal G30S/PKI, bukanlah satu-satunya peristiwa kejahatan pada tahun 1965, yang bisa disebut tahun kekelaman sejarah Indonesia.

Setelah peristiwa G30S/PKI yang membuat 7 jenderal TNI menjadi korban kebiadaban kemanusiaan, rentetan peristiwa memilukan terjadi pada tahun tersebut.

Menurut Sejarawan University of British Columbia (UBC), Kanada, John Roosa, setelah kejadian tragis itu, massa dari PKI-yang disebut-sebut sebagai dalang pembunuhan para jenderal-dihabisi.

Mereka ditangkap, ditahan, dibunuh dan dibuang ke hutan secara paksa.

Presiden Jokowi Harap Unud Terus Berperan dalam Proses Adaptasi Kebiasaan Baru & Pencegahan Covid-19

VIDEO: Resep Mudah Bolu Labu Kuning (Easy Pumpkin Cake) Empuk, Legit, Sehat No Mixer

Dua Pekan Luhut Panjaitan dan Doni Monardo Ditugasi Presiden Redam Covid-19 di 9 Provinsi, Hasilnya?

Lari dari Majikan Kejam, Sulis Nekat Turuni Balkon Apartemen 15 Lantai

John Roosa mengatakan, peristiwa mengikuti setelah G30S terjadi harus juga dilihat dalam rangkaian tahun 1965.

Dua peristiwa itu sama-sama menunjukkan kekerasan terhadap kemanusian.

Pada saat G30S, terjadi kekerasan menyebabkan kematian 7 perwira tinggi TNI-AD yang kemudian dianugerahi gelar pahlawan revolusi dan pahlawan nasional.

PKI disebut-sebut sebagai dalang dari tragedi berdarah ini.

Setelah itu peristiwa G30S, terjadi pembersihan PKI dengan penahanan dan pembunuhan massal atau penghilangan paksa di banyak daerah.

"Kalau kita bicara isu 1965, ada banyak yang terjadi. Ada G30S. Ada pembunuhan massal setelah itu, ada penahanan massal, meskipun harus melihatnya dalam dua peristiwa tersendiri," ujar penulis Buku 'Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto (2008)' ini dalam Dialog Sejarah, "1965: Sejarah yang Dikubur" seperti disiarkan di Channel Youtube Historia.id, Selasa (29/9/2020).

Dia menjelaskan, kasus-kasus kekerasan yang terjadi sepanjang tahun 1965 tidaklah normal bagi mereka yang hidup saat itu, baik sebagai pelaku maupun korban.

Dia menilai, sebenarnya untuk pembersihan PKI tidak perlu dilakukan dengan Pembunuhan atau penghilangan paksa jutaan orang yang dianggap atau dekat dengan PKI.

"Sebenarnya cukup penahanan terhadap mereka, seperti dilakukan di Jawa Barat.

Tapi yang terjadi penghilangan paksa orang yang sudah ditahan, sudah tidak berdaya lagi, diambil dari penjara atau kamp penahanan, dinaikkan ke truk, dibawa ke tempat lain yang biasanya tempat yang agak sepi di hutan, di tepi sungai, terus dibunuh di situ," paparnya.

Perlengkapan Tim dan Pemain Bali United Sudah Tiba di Yogyakarta, Liga 1 Kembali Ditunda Sebulan

Hasil Survei Menteri Kesehatan Terawan Terpopuler dan Ini Alasan Najwa Shihab Ingin Undang Menkes

Kekayaan Gatot Nurmantyo Meningkat Belasan Miliar Rupiah Sejak Menjabat Panglima TNI

"Ini sengaja dibuat supaya orang tidak bisa ingat, karena tidak banyak ada saksi akan penghilangan paksa itu.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved