Produksi Padi di Denpasar hingga Agustus 2020 Menurun 2.637 Ton
Hingga September 2020 ini, produksi padi di Kota Denpasar, Bali mengalami penurunan dibanding tahun 2019 pada bulan yang sama
Penulis: Putu Supartika | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Hingga September 2020 ini, produksi padi di Kota Denpasar, Bali mengalami penurunan dibanding tahun 2019 pada bulan yang sama.
Tahun 2019, hingga Agustus, produksi padi di Denpasar sebanyak 17.028,58 ton.
Sedangkan hingga Agustus 2020, produksi padi sebanyak 14.391 ton.
Sehingga penurunan produksi terjadi sebesar 2.637 ton.
• PDDS Tabanan Kelola Beras ASN dan Rancang Buka Coffeshop Serta Minimarket
• Lolos Kartu Prakerja Bisa Dapat Insentif Rp 50.000 Sebanyak Tiga Kali, Ini Caranya
• Punya Hubungan Dekat Bos Suzuki, Rossi Akan Bentuk Tim Satelit di MotoGP 2022?
Hal ini dikarenakan lahan pertanian khususnya persawahan di Kota Denpasar semakin menyusut.
Walaupun demikian, menurut Plt Sekretaris Dinas Pertanian Kota Denpasar, IGA Puspayeni, produktivitas padi di Kota Denpasar tertinggi di Bali.
“Produktivitasnya lumayan, paling tinggi di Bali, paling banyak menghasilkan dalam luasan satu luasan. Tahun 2018 sebanyak 67,55 persen dan naik menjadi 69,02 tahun 2019,” katanya.
Pihaknya mengatakan, mengingat lahan tak terlalu luas, sehingga sasaran yang diutamakan yakni produktivitas per satuan luas.
Bahkan menurutnya, dalam setahun ada yang bisa menanam padi hingga tiga kali, walaupun umumnya dua kali.
“Di Denpasar sistemnya padi padi palawija, namun ada seperti di Denpasar Selatan bisa menanam padi sebanyak tiga kali,” katanya.
Untuk meningkatkan produktivitas ini, pihaknya memberikan pelatihan serta memberikan stimulus berupa bantuan pupuk kepada petani.
Selain itu, saat panen sebelum pandemi Covid-19, petani diberikan berjualan langsung di areal car free day.
Akan tetapi yang menjadi masalah saat ini yakni usia petani yang rata-rata berumur 50 tahun ke atas.
“Ada yang di bawah 35 tahun, cuma tidak banyak, karena rata-rata di atas 50 tahun,” katanya.
Selain itu, kepemilikan lahan pertanian di Denpasar per petani di bawah setengah hektar.
“Petani di Denpasar itu petani gurem dengan kepemilikan lahan di bawah setengah hektar, kita harapkan dengan kepemilikan kecil, support dengan bantuan dan sosialisasi,” katanya.
Sementara untuk luasan lahan pertanian di Kota Denpasar hanya 1.958 hektar dengan rincian, Denpasar Utara 589 hektar, Denpasar Timur 616 hektar, Denpasar Selatan 536 hektar, dan Denpasar Barat 217 hektar.
Terjadi penyusutan sebesar 212 hektar dari tahun sebelumnya.
Semenatara untuk kelompok tani yang aktif sebanyak 132 kelompok yakni Denpasar Utara 27 kelompok, Denpasar Timur 46 kelompok, Denpasar Selatan 39 kelompok dan Denpasar Barat 20 kelompok.
Sedangkan Gapoktan sebanyak 37 kelompok yakni Denpasar Utara 7 kelompok, Denpasar Timur 21 kelompok, Denpasar Selatan 7 kelompok dan Denpasar Barat 2 kelompok. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/petani-di-wilayah-penarungan.jpg)