Serba Sebi
Berasal Dari Weda, Usada Bali Pengobatan Tradisional Rakyat Bali Sejak Dahulu
Dosen Prodi Ayurweda UNHI, I.B. Suatama menjelaskan, Usada Bali merupakan pengobatan tradisional berasal dari Weda
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Laporan Wartawan Tribun Bali, A A Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Rasanya kata Usada tak asing di telinga masyarakat, khususnya warga Bali.
Walau demikian, tak banyak yang tahu asal usul Usada dan seperti apa isinya.
Hanya masyarakat yang bisa membaca lontar, atau paham aksara dan bahasa Bali yang mungkin paham tentang Usada.
Dosen Prodi Ayurweda UNHI, I.B. Suatama menjelaskan, Usada Bali merupakan pengobatan tradisional berasal dari Weda.
Baca juga: Ini 4 Drakor Romantis dengan Bumbu Cinta Segitiga, Dapat Mengundang Rasa Penasaran Anda
Baca juga: Rocky Gerung Sebut Keahlian Gus Dur Ini Tak Dimiliki Presiden Lain
Baca juga: Ini 4 Drakor Klasik yang Populer di Tahun 2000-an, Apa Anda Sudah Menontonnya?
“Kemudian bagian Weda yang mengungkap masalah kesehatan, dan panjang umur disebut Ayurweda,” jelasnya kepada Tribun Bali, Kamis (22/10/2020).
Ayurweda berkembang ke Indonesia, dan disebut dengan Husada lalu di Bali disebut Usadha/Usada.
“Usada Bali berisi tentang asal penyakit dan cara pengobatannya,” tegas praktisi Usada ini.
Ia menjelaskan sumber penyakit berasal dari Daiwika Duhka, atau berasal dari para dewa, roh leluhur.
Yang di Bali kerap disebut ‘kaduken’ atau ‘kesalahang leluhur’ artinya disalahkan leluhur.
Kemudian Adhyatmika Duhka, berasal dari kelemahan diri sendiri, kelemahan imun tubuh, dan kelemahan mental.
Bautika Duhka, berasal dari luar tubuh karena kerusakan lingkungan, salah makan, dan bencana alam.
“Sumber pengobatannya Taru Pramana atau obat yang berasal dari herbal. Sato Pramana obat yang berasal dari hewan seperti susu, madu, telur, dan lain sebagainya,” sebutnya.
Ia menjelaskan, praktisi Usada disebut balian dan balian ini ada beberapa jenisnya.
Diantaranya balian Usada, balian ketakson, balian kapican, dan balian campuran.
“Sistem Usada Bali disebut gering sakit untuk manusia, sasab untuk binatang, dan merana untuk tumbuh-tumbuhan,” jelasnya.
Tentunya, Usada tidak serta merta sama dengan pengobatan modern saat ini.
Sebab, kata dia, pengobatan modern berasal dari dunai barat seperti Eropa yang merupakan basis ilmu kedokteran.
Sementara Usada berasal dari Weda yang asal muasalnya dari India.
Lanjutnya, medis modern mengutamakan ukuran yang pasti berdasarkan hasil laboratorium.
Baik pemeriksaannya maupun pengobatannya, dan diakui secara legal formal.
Sedangkan Usada merupakan kearifan lokal, literaturnya ada, user atau pasiennya ada, dengan praktisi disebut balian.
“Sementara medis modern praktisinya disebut dokter, dan departemennya disebut departemen kesehatan,” ujarnya.
Sementara medis tradisional atau Usada, belum ada departemen tersendiri dan masih di bawah kesehatan tradisional.
Untuk balian sendiri, belum pernah diangkat oleh pemerintah serta masih praktik secara emperis komplementer.
“Pergub Nomor 55 Tahun 2019, dan Permenkes Nomor 27 Tahun 2017, menyiratkan praktek terintegrasi dokter atau balian naskestrad boleh praktek satu atap bersama dokter dengan persyaratan tertentu,”tegasnya.
Ia menjelaskan, masyarakat bisa ke balian Usada atau balian lainnya, yang penting tujuan utamanya adalah kesembuhan.
Apalagi hingga saat ini, masyarakat Bali masih percaya dengan balian dan kerap datang untuk metamba atau berobat.
“Peneliti balian, Angelo Hobart, mengatakan selama masih percaya dengan Hindu dan pada sekala-niskala, maka selama ini akan ada balian,” sebutnya.
Walau demikian, tentunya masyarakat Bali dan masyarakat umumnya percaya dengan medis modern dan berobat ke dokter.
“Maka kedua sistem pengobatan modern maupun tradisional. Usada Bali bisa digunakan sebagai pendekatan untuk kesembuhan dan meningkatkan imun tubuh masyarakat Bali,” katanya.
Istilahnya, masyarakat Bali atau Hindu bisa memadupadankan kedua pengobatan ini baik medis modern maupun tradisional.
Guna mendapatkan kesehatan yang optimal dan stabil dalam kehidupan sehari-hari. (*).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ib-suatama-dosen-prodi-ayurweda-unhi.jpg)