Breaking News:

Persyaratan Belum Terpenuhi, Payas Madya dan Payas Agung Khas Tabanan Ditangguhkan Jadi WBTB

pengusulan WBTB tahun ini di bulan September. Sehingga, untuk dua tradisi tersebut akan diusulkan kembali di tahun 2021 mendatang.

Penulis: I Made Prasetia Aryawan | Editor: Wema Satya Dinata
Tribun Bali/I Made Prasetia Aryawan
Salah satu contoh foto model mengenakan Payas Agung Khas Tabanan yang diusulkan menjadi WBTB. 

Dulu, Kerajaan Tabanan memposisikan Raja Tabanan selaku penguasa, dan rakyat selaku anggota masyarakat.

Selaku penguasa, keluarga raja dan para bangsawan memiliki posisi lebih tinggi baik secara sosial, budaya, maupun ekonomi.

Modal sosial, budaya, dan ekonomi yang lebih tinggi daripada anggota masyarakat biasa memungkinkan kalangan raja dan bangsawan berpenampilan dengan busana mewah yang disebut Payas Agung.

Sehingga Payas Agung ini berkaitan erat dengan spesifikasi status sosiokultural pemakainya serta tingkat upacara yang dilaksanakan.

Payas Agung saat zaman kerajaan, juga hanya dikenakan oleh Raja dan keluarganya ketika melaksanakan upacara yang berhubungan dengan daur hidup manusia.

 Seperti upacara ngeraja sewala (upacara menuju dewasa atau akil balik), metatah atau mepandes (potong gigi), pawiwahan (pernikahan), serta upacara penting lainnya.

Namun seiring perkembangan zaman, seperti saat ini payas agung sudah digunakan semua kalangan dari berbagai lapisan masyarakat.

Namun, Payas Agung ini disesuaikan dengan tingkat upacara yang dilaksanakan.

Ciri khasnyayang menonjol pada payas agung putri terletak di hiasan kepala dan selendang. Sedangkan untuk payas agung putra dihiasan udeng.

Ciri khas payas agung untuk putri Kabupaten Tabanan diantaranya, di bagian petitis dinamakan cantik bagian tengah berbentuk runcing.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved