Breaking News:

Persyaratan Belum Terpenuhi, Payas Madya dan Payas Agung Khas Tabanan Ditangguhkan Jadi WBTB

pengusulan WBTB tahun ini di bulan September. Sehingga, untuk dua tradisi tersebut akan diusulkan kembali di tahun 2021 mendatang.

Tribun Bali/I Made Prasetia Aryawan
Salah satu contoh foto model mengenakan Payas Agung Khas Tabanan yang diusulkan menjadi WBTB. 

Diatas petitis dilengkapi bunga segar wajib dari bunga cempaka putih, cempaka kuning dan mawar berjumlah ganjil. Barulah diatas bunga hidup berisi hiasan bunga mas.

Masih pada hiasan putri, terpenting ciri khas yang lain pada pemakaian selendang anca. Dimana selendang dikenakan menjuntai dibawah ketiak kiri dan kanan.

Serta yang paling menarik memakai selendang ktengsun (selendang polos) dililitkan di pinggang menjuntai di depan. Dan yang terakhir wastra yang dikenakan mecingcingan sebelah kanan.

Sedangkan untuk hiasan putra ciri khas yang dimiliki memakai udeng mas dilengkapi bunga pucuk emas di depan dan bunga cempaka putih atau kuning di telinga kanan dan kiri.

Kemudian menggunakan kamben prada dengan ujung membentuk kancut menjuntai panjang ke bawah hingga menyentuh tanah.

Dia menceritakan, selama proses menjelang pengusulan dua tradisi tersebut, pihak Dinas Kebudayaan Tabanan terus berkoordinasi dengan pihak ke tiga yakni Salon Agung.

Seiring waktu berjalan, ternyata dua tradisi tersebut ditangguhkan karena salah satu syarat yakni deskripsi terkait tradisi tersebut yang berupa buku tak bisa diterbitkan sebelum masa pengusulan.

Dia melanjutkan, rencana sebelumnya adalah buku tersebut akan diterbitkan pada bulan Juni 2020 lalu, namun karena adanya pandemi Covid-19 sejak bulan Maret lalu sehingga penerbitan buku tersebut diundur menjadi bulan Oktober 2020.

Padahal untuk pengusulan penetapan sudah mulai September dan harus dilengkapi seluruhnya. Karena hanya terkendala izin penerbitan tersebut, pengusulan terpaksa diundur tahun depan.

"Kita tidak tahu ada pandemi ini. Jika saja tidak ada pandemi ini mungkin sudau ditetapkan tahun ini dua tradisi ini," ungkapnya.

Akhirnya, kata dia, dua tradisi ini kita nantinya akan kembali usulkan di tahun 2021 mendatang.

 Hal tersebut juga sesuai dengan saran para peneliti dari Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPND). Sebab, semua persyaratan untuk pengusulan sudah lengkap hanya tinggal melengkapi buku tersebut.

"Semua persyaratan sudah lengkap, tinggal kurang diterbitkan bukunya saja. Tapi nanti di tahun depan kita tinggal mengusulkan saja, karena bukunya juga sudah dikatakan terbit bulan Oktober ini. Sehingga semua syarat sudah lengkap dan tinggal mengusulkan untuk selanjutnya ditetapkan," katanya.

Sagung mas menyatakan, semenjak Dinas Kebudayaan terpisah dari Disbudpar, hanya baru satu tradisi yang sudah ditetapkan menjadi WBTB artinya pengusulannya murni dari Disbud Tabanan. Jika sebelumnya masih Disbudpar.

Adalah Tradisi Ngerebeg Keris Ki Baru Gajah yang dilaksanakan Puri Kediri bersama Desa Adat Kediri, Kecamatan Kediri, Tabanan, akhirnya ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia. Hal ini menjadi yang pertama di Kabupaten Tabanan meskipun melewati proses yang begitu panjang.

Sertifikat WBTB ini diserahkan langsung oleh Kepala Dinas Kebudayaan Tabanan, I Gusti Ngurah Supanji kepada Pangelingsir Puri Kediri, A. A. Ngurah Anom Widnyana, di sela-sela kegiatan Forum Diskusi dan Doa Bersama dengan tema “Keris Ki Baru Gajah Panugrahan Ida Hyang Dwijendra” yang digelar di Puri Kediri, Kecamatan Kediri, Tabanan, Minggu (19/1) lalu.

Ngurah Supanji menerangkan, penetapan tradisi tersebut berawal dari konvensi di UNESCO yang menghasilkan bahwa semua Negara diwajibkan untuk mencatatkan  warisan budaya di negaranya masing-masing. Sehingga kemudian, di Indonesia mengikuti hal tersebut dengan mencatatkan warisan budaya yang ada di daerah masing-masing, baik berupa benda maupun tak benda.

"Khusus di Kabupaten Tabanan melalui Dinas Kebudayaan Tabanan lalu mengusulkan untuk mendapatkan pengakuan sekaligus pencatatan WBTB, yakni ritual atau tradisi Ngerebeg Keris Ki Baru Gajah di Kecamatan Kediri," kata Supanji.

Dia menuturkan, proses pengusulannya tradisi ini melalui beberapa tahapan. Seperti mencatatkannya di Register Nasional (Regnas) Kementrian dan Kebudayaan RI, penyiapan berkas, penelitian dari tim ahli, sidang penetapan hingga sampai ke apreasi penetapan.

Dan tentunya, semua proses pengusulan itu butuh waktu, dan proses tersebut pihaknya banyak dibantu oleh sejumlah Tokoh Puri dan masyarakat di Kecamatan Kediri hingga kemudian Tradisi Ngerebeg Keris Ki Baru Gajah ini berhasil ditetapkan sebagai WBTB, sekaligus ini merupakan jadi yang pertama sebagai warisan yang diakui secara nasional melalui pemerintah Kabupaten Tabanan saat ini.(*)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved