Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Waspada Pupuk Palsu, Sasar Petani di Pegunungan

18 sak pupuk NPK merek Phonska yang diduga palsu dititipkan di rumah Samsuri

Tribun Bali/I Made Argawa
Seorang petani menebar pupuk di sawah yang baru ditumbuhi padi di Subak Gubug II, Desa Gubug Tabanan. Kecamatan yang paling banyak mendapatkan alokasi pupuk urea bersubsidi pada 2016 di Tabanan adalah Penebel yang mencapai 1.447,95 ton 

TRIBUN-BALI.COM, TULUNGAGUNG - 18 sak pupuk NPK merek Phonska yang diduga palsu dititipkan di rumah Samsuri, Ketua Gapoktan Argo Lestari Desa Ngrejo, Kecamatan Tanggunggunung, Kabupaten Tulungagung.

Pupuk-pupuk itu diamankan Unit Pidana Khusus Satreskrim Polres Tulungagung, selama proses penyelidikan.

Samsuri mengatakan, para petani jagung di wilayah pegunungan memang tanam lebih awal.

Sebab mereka sepenuhnya mengandalkan air hujan untuk menyirami tanaman jagung mereka.

Apalagi saat ini musim penghujan datang lebih cepat, karena dampak La Nina.

“Otomatis petani banyak membutuhkan pupuk. Mereka bahkan siap membeli pupuk non subsidi,” ujar Samsuri, saat ditemui di rumahnya, Jumat (6/11/2020).

Di tengah kebutuhan pupuk yang mendesak, petani awalnya merasa terbantu dengan datangnya pupuk di sebuah toko pertanian milik Kini.

Saat itu pupuk dengan label subsidi ini dijual mulai dari Rp 170.000 hingga Rp 190.000.

Warga pun beramai-ramai membeli dan mengaplikasikan pada tanaman jagung.

“Selang dua minggu menggunakan pupuk ini, tanamannya berubah menjadi kuning,” sambung Samsuri.

Khawatir tanaman jagungnya mati, Samsuri memilih memupuk ulang. Kali ini pupuk yang digunakan adalah NPK Mutiara yang harganya lebih mahal.

Samsuri bersyukur, kini tanaman jagung miliknya bisa pulih kembali menghijau dan subur.

“Akhirnya yang sudah terlanjur pakai menyimpulkan, pupuk ini palsu. Akhirnya beramai-ramai mengembalikan pupuk ini,” ujarnya.

Gapoktan Argo Lestari beranggotakan 300 petani jagung. Selama ini para petani anggotanya mengandalkan pupuk bersubsidi.

Namun karena kebutuhan pemupukkan lebih besar daripada paket pupuk dari pemerintah, mereka juga membeli pupuk non subsidi.

“Pasti kami masih cari pupuk di luar. Asal barangnya ada, kami sudah senang,” pungkas Samsuri.

Gatot Rahayu, anggota Komisi Pengawas Pupuk dan Pestisida (KPPP) Tulungagung mengatakan, pupuk diduga palsu ini hanya ditemukan di Desa Ngrejo, Kecamatan Tanggunggunung.

Diduga pelaku mengetahui kondisi para petani Ngrejo, yang selalu butuh pupuk lebih awal. Mereka memanfaatkan situasi ini untuk memasarkan produk abal-abal.

“Di saat petani butuh pupuk, mereka pasarkan produk mereka. Petani beli asal dapat pupuk, tapi ternyata diduga palsu,” ucapnya.

Menurut Gatot, pihak Petrokimia Gresik sudah cek produk ke lapangan. Mereka memastikan produk ini bukan miliknya, karena dari sisi fisik dan kemasan jauh berbeda.

Namun belum ada penjelasan soal sak (karung) asli milik Petrokimia yang digunakan.

Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved