Breaking News:

Pura di Bali

Kisah Mistis Linggarsa Pura, Konon Dijadikan Tempat Menanam Abu Raja Bali dan Keluarganya

Sembari berjalan-jalan melihat lokasi, tempat pertama kali Gajah Mada datang ke Bali. Ida bhagawan menceritakan banyak hal.

Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Wema Satya Dinata
Tribun Bali/AA Seri Kusniarti
Tanah muntig atau gegumuk yang konon menjadi tempat dikuburnya abu Ida Bhatara Dalem Sri Aji Kresna Kepakisan. 

 Beliau langsung menuju Bali, bersama rombongannya melalui Pelabuhan Rangkung di Pantai Lebih, Gianyar.

Perjalanannya menelusuri sungai, hingga tiba di tempat perkemahan Gajah Mada, di Tegal Sahang, Samplangan, Gianyar.

Sebab sebelumnya, Gajah Mada sampai duluan untuk melakukan investigasi dan mengalahkan raja Bali terdahulu, Raja Bedahulu.

Penelusuran tempat sesuai isi babad, bahwa lokasi ini terletak di Desa Samplangan, Gianyar dan diapit dua sungai yakni Sungai Sangsang dan Cangkir.

Akhirnya tanah sawah, bekas puri atau istana kerajaan dinasti Ida Bhatara Dalem Sri Kresna Kepakisan terbukti.

Diantaranya, dengan masih adanya dua sungai Sangsang dan Cangkir diantara lokasi ini. Kemudian bukti kuat, adalah adanya tanah muntig atau gegumuk yang tidak tahu darimana asal usulnya dan siapa yang membuatnya.

Bukti lainnya, adanya sebidang tanah yang tidak bisa ditanami apapun kecuali rerumputan.

 Tahun ke tahun, zaman ke zaman, akhirnya puri istana Lingga Pura dinasti Ida Bhatara Dalem Sri Aji Kresna Kepakisan sekaligus merupakan tempat tinggal ida dalem sirna hilang ditelan bumi. Kemudian seiring waktu, menjadi milik keluarga I Dewa Gede Bisma.

Kisah unik lainnya, adalah adanya arit atau sabit yang saat diambil oleh pengayah di sana diminta lagi oleh penunggunya.

“Banyak cerita unik, satu diantaranya adalah ketika ada yang ngayah di sini disuruh mengembalikan sabit yang diambil,” jelas Ida bhagawan. Sembari menunjuk sebuah pelinggih panyeneng, sebagai penghormatan bagi penunggu sungai di sana. Kebetulan di bawahnya adalah sungai Sangsang.

Ia menjelaskan, ada dua pengayah yang tak sengaja membawa pulang sabit (arit) itu. Dan sampai di rumah dicari oleh penunggu dan diminta membalikan sabit tersebut.

“Pengayah berpikir itu arit biasa, tapi ternyata bukan, jadi dikembalikan lagi ke sini,” katanya.

Beberapa yang datang ke sana juga mendapatkan pica dan meminta kesembuhan atau metamba. (*)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved