Breaking News:

Citizen Journalism

Dewi Osing Kemiren, Penggerak Pariwisata Banyuwangi

Desa Wisata (Dewi) merupakan salah satu bentuk community based tourism yang banyak dikembangkan di Indonesia, salah satunya adalah Dewi Osing Kemiren,

https://www.banyuwangikab.go.id
Dewi Osing Kemiren, yang terletak di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Propinsi Jawa Timur 

Pariwisata merupakan mesin penggerak ekonomi Indonesia. Industri pariwisata di masa pandemik ini, mengalami penurunan yang signifikan, hal ini terlihat dari jumlah kunjungan wisatawan yang menurun sejak awal pandemik terjadi.

Aktifitas pariwisata di Indonesia tidak bergerak, dan bahkan di beberapa daerah “mati suri”. Pariwisata berbasis komunitas atau masyarakat, yang disebut  community based tourism  pun ikut terhenti aktifitasnya.

Desa Wisata (Dewi) merupakan salah satu bentuk community based tourism yang banyak dikembangkan di Indonesia, salah satunya adalah Dewi Osing Kemiren, yang terletak di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Propinsi Jawa Timur.

Desa Wisata yang memiliki konsep desa tradisional berwawasan lingkungan, dengan mengutamakan pelestarian kebudayaan dan konservasi alam serta pemberdayaan sosial budaya dan ekonomi masyarakat lokal ini, juga mengalami penurunan jumlah kunjungan.

Dewi Osing Kemiren, yang terletak di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Propinsi Jawa Timur
Dewi Osing Kemiren, yang terletak di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Propinsi Jawa Timur (https://www.banyuwangikab.go.id)

Seperti dijelaskan mas Edi (baca Eday, dalam bahasa osing) penggerak kelompok sadar wisata (Pokdarwis) sekaligus pengelola desa wisata Osing Kemiren, bahwa sejak masa pandemik, kunjungan wisatawan ke destinasi mengalami penurunan, tercatat sepanjang tahun 2019 wisatawan yang berkunjung mencapai 18.000 orang, sedangkan sejak Januari sampai dengan Maret 2020, tercatat hanya 2.000 wisatawan yang berkunjung ke destinasi ini.

Bulan Maret sampai dengan Oktober 2020, tidak ada wisatawan yang mengunjungi desa wisata ini, yang tentunya disebabkan oleh wabah Covid-19.

Untuk menggerakkan kembali kepariwisataan di Indonesia, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menyelenggarakan program Indonesia Care, yang salah satu aktifitasnya adalah mempersiapkan desa wisata berkelanjutan. Indikator berkelanjutan pada Desa wisata, mengacu pada indikator-indikator berkelanjutan dalam Indonesia Sustainability Tourism Council (ISTC).

Salah satu indikator penting dalam ISTC adalah  Clean, Health and Safety Environment (CHSE). ISTC merupakan dewan kepariwisataan berkelanjutan Indonesia, yang memiliki tugas memastikan keterlaksanaan pariwisata berkelanjutan di Indonesia.

Adapun kriteria keberlanjutan yang digunakan adalah hasil adopsi dan adaptasi dari kriteria Global Sustainability Tourism Council (GSTC) yang merupakan organisasi di bawah pengelolaan United Nation World Tourism Organization (UNWTO).

Pada tanggal 12 dan 13 November 2020 tim assessmen lapangan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif melakukan kunjungan ke Desa Wisata Osing Kemiren, untuk melakukan asesmen lapangan sertifikasi desa wisata berkelanjutan. Proses asesmen lapangan  dilakukan dengan metode blended yang mengombinasikan audit secara daring (dalam jaringan, melalui aplikasi zoom) dipandu oleh auditor bapak David Makes, dan audit secara luring (luar jaringan, dengan turun langsung ke destinasi) yang dipandu oleh auditor ibu Dr. Diena M. Lemy.

Halaman
12
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved