Breaking News:

Guru Besar Pertanian Unud: Petani Sudah Miskin, Tapi Malah Dijadikan 'Bemper' Inflasi

Situasi ini dibuktikan ketika harga beras mulai merangkak naik, tapi Pemerintah malah memilih impor sehingga harga di petani selalu rendah

dok
ilustrasi - Lahan pertanian di Kecematan Tegalalang, Gianyar. 

Laporan Jurnalis Tribun Bali, I Wayan Sui Suadnyana

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Udayana (Unud), I Wayan Windia, menilai negara saat ini lebih pro terhadap konsumen dan tidak mendukung keberadaan petani sebagai produsen.

Situasi ini dibuktikan ketika harga beras mulai merangkak naik, tapi Pemerintah malah memilih impor sehingga harga di petani selalu rendah.

Situasi ini sangat menyulitkan para petani, sebab keberadaan produk input pertanian berupa pupuk dan alat mesin pertanian (alsintan) seperti traktor, pajak terus mengalami kenaikan.

Situasi lebih sulit lagi karena keberadaan air untuk irigasi pertanian semakin krisis.

Baca juga: Alih Fungsi Lahan Marak di Bali, Subak Diprediksi Akan Lenyap pada 2030

Baca juga: Sule dan Nathalie Holscher Akan Bulan Madu ke Bali, Raffi Ahmad Bayari 30 Tiket Pesawat

Baca juga: Aktivitas Habib Rizieq Kerap Libatkan Kerumunan, Konsistensi Anies Baswedan Jadi Sorotan

Windia mengungkapkan, kebijakan seperti ini tidak memberikan kesempatan kepada para petani untuk menjadi kaya.

 "Tidak diberikan mereka (petani) untuk kaya.

Itu karena negara pilihannya sekarang memihak kepada konsumen biar berasnya murah, biar endak ada inflasi," kata Windia.

Hal ini Windia sampaikan dalam diskusi bertajuk "Subak Sebagai Warisan Budaya Dunia Apa Kabar?" di Kampus Unud Sudirman, Denpasar, Minggu (15/11/2020).

"Petani sudah selem, jelek, berag, lacur (tapi malah) menjadi bemper inflasi," tegas Windia dalam diskusi yang dicetuskan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Pertanian dan BEM Fakultas Hukum Unud itu.

Menurut Windia, seharus Pemerintah memberikan agar harga beras naik di pasaran.

 Harga beras yang baik untuk petani saat ini harusnya berada di Rp 25 ribu per kilogram.

Sementara jika melihat harga beras saat ini, pendapatan petani kurang lebih sama dengan pengemis yang ada di jalanan atau hanya Rp 11 juta per musim.

Kebijakan untuk membuat harga-harga yang memihak produsen harus dilakukan oleh pemerintah. Melalui cara ini, nantinya akan banyak orang yang akan suka untuk bertani.

"Buat kebijakan yang memihak petani, harga beras naik. UMR buruh juga dinaikkan supaya bisa beli beras.

Baca juga: Tony Ferguson Sebut Conor McGregor Pria Pengecut

Baca juga: 5 Zodiak yang Sulit Mengungkapkan Perasaan Cinta, Virgo Sangat Hati-hati Memilih Pasangan

Baca juga: Persaingan di Tubuh Timnas U-19 Indonesia, Pemain Ini Siap Adu Kuat Dengan Elkan Baggott dan Kolega

Jangan seperti sekarang ditekan-tekan, buruh murah ongkosnya, petani murah harga (produknya)," tegas Windia. (*)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved