Bangkai Paus Sperma Sepanjang 10 Meter Terapung di Perairan Serangan, Tubuhnya Penuh Luka

Seekor paus jenis sperma atau Physeter Macrocephalus, ditemukan mati mengambang di perairan Serangan, Denpasar, Bali.

Made Sukanta, TCEC Serangan kiriman dari BPSPL
Bangkai paus sperma ditemukan mengapung oleh nelayan dan relawan Turtle Conservation and Education Center (TCEC) Serangan pada Selasa (17/11/2020). Saat ditemukan, kondisi paus sepanjang 10 meter ini penuh luka 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Seekor paus jenis sperma atau Physeter Macrocephalus, ditemukan mati mengambang di perairan Serangan, Denpasar, Bali.

Bangkai paus ini ditemukan oleh nelayan dan relawan Turtle Conservation and Education Center ( TCEC) Serangan pada Selasa (17/11/2020) sekitar pukul 07.10 Wita.

Relawan tersebut sempat memvideokan dan memfoto dan melaporkannya kepada Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar.

Baca juga: Kerap Keluar Malam Hari, Kakek 79 Tahun Ditemukan Meninggal di Pinggir Jalan di Bangli

Baca juga: Jabatan Kapolda Diisi Putra Asli Bali, Kabid Humas Polda Bali Beri Komentar Ini

Baca juga: 88 Sertifikat Diserahkan BPN ke Pemkab Jembrana

Dikonfirmasi Kepala BPSPL Denpasar, Permana Yudiarso, mengatakan paus ini sudah dalam kondisi mati dalam keadaan terapung dengan banyak luka di tubuhnya.

“Kami langsung identifikasi ke lapangan dan menemukan yang terapung adalah seekor paus sperma,” kata Yudi.

Diketahui paus ini memiliki panjang sekitar 10 meter dan bobot lebih dari 2 ton.

Selain itu, diperkirakan paus ini telah mati lebih dari seminggu.

Baca juga: Air PDAM Klungkung Masih Alami Gangguan Sejak Hari Minggu, 15 Ribu Rumah Terdampak

Baca juga: Presiden Jokowi Bicara Soal Kemungkinan Reshuffle Kabinet 

Baca juga: Beri Dukungan 100 Persen, Hotman Paris Ajak Pemuda Bali Bersuara Soal RUU Minuman Beralkohol

Yudi mengatakan paus ini ditemukan terdampar sejauh 500 meter ke arah timur dari pelabuhan Serangan.

“Penyebab pastinya belum ketahui karena butuh penelitian, sementara ada beberapa penyebab mati, ada tiga hal bisa karena sakit, karena tertabrak kapal, ketiga bisa jadi disorientasi bisa menyebabkan kematiannya,” katanya.

Untuk bangkainya saat ini masih mengambang di depan perairan Mertasari Sanur.

Baca juga: 22 Orang Terjaring Razia Masker di Peguyangan Kangin Denpasar, 15 Orang Didenda

Baca juga: Tindak Lanjut Sister City dengan Mossel Bay, Denpasar Kini Dapat Menitipkan Produknya di KJRI

Rencananya paus ini akan dikuburkan.

Akan tetapi pihaknya masih mencari cara untuk membawa bangkai paus tersebut ke pesisir.

“Bangkai paus ini untuk penanganannya mengacu pada SOP Kementerian Perikanan dan Kelautan. Ada tiga hal yang dilakukan, bisa dengan penguburan, pembakaran, atau penenggelaman. Tiga hal penguburan pembakaran atau penenggelaman, kita upayakan opsi utk penguburan, masih terapung di depan perairan Mertasari lagi kami cari alternatif caranya menanganinya, karena jauh dari pantai,” katanya. (*)

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved