Breaking News:

Kisah Magis Tari Rejang Sutri di Desa Batuan Gianyar, Diyakini Terkait Ratu Gede Mas Mecaling

Tari Rejang Sutri dipentaskan selalu pada Soma Kliwon Klurut, Kajeng Kliwon Enyitan Sasih Kalima di wantilan Pura Desa lan Puseh Desa Adat Batuan.

Tribun Bali/A A Seri Kusniarti
Tari Rejang Sutri dipentaskan selalu pada Soma Kliwon Klurut, rahina Kajeng Kliwon Enyitan Sasih Kalima oleh masyarakat serempat. Pementasan ini berlangsung setiap malam di wantilan Pura Desa lan Puseh Desa Adat Batuan sampai berakhirnya Sasih Kesanga. Atau saat hari suci Nyepi. 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Bali memiliki banyak jenis tari rejang, baik yang sakral maupun kreasi.

Salah satunya adalah Tari Rejang Sutri, yang memiliki nuansa magis dan disakralkan oleh Desa Pakraman Batuan, Sukawati, Gianyar.

Tari Rejang Sutri dipentaskan selalu pada Soma Kliwon Klurut, rahina Kajeng Kliwon Enyitan Sasih Kalima oleh masyarakat setempat.

Pementasan ini berlangsung setiap malam di wantilan Pura Desa lan Puseh Desa Adat Batuan sampai berakhirnya Sasih Kesanga. Atau saat hari suci Nyepi.

Tradisi yang diwarisi turun-temurun ini, pantang jika ditiadakan karena dipercaya bisa membahayakan.

“Bahkan bisa nyawa taruhannya,” jelas Jro Mangku Suda, kepada Tribun Bali, Senin (16/11/2020).

Jro Mangku Suda
Jro Mangku Suda (Tribun Bali/AA Seri Kusniarti)

Pemangku yang ngayah di Pura Puseh Pura Desa Desa Pakraman Batuan ini menjelaskan, dalam kondisi pandemi pun tarian ini harus tetap dilaksanakan.

Tentunya disesuaikan dengan protokol kesehatan agar tidak terjadi klaster baru. Bahkan beliau menjelaskan, kerap ada kejadian gaib dan mistis berkaitan dengan tarian ini.

“Konon anak muda di sini melihat ada api terbang. Lalu videonya dikirim ke saya. Mungkin saja itu rencang dari Ida Bhatara Ratu Gede Mas Mecaling yang mengecek apakah tradisi tarian Rejang Sutri dilakukan atau tidak di Batuan,” sebutnya. 

Baca juga: Kisah Kesaktian Ratu Gede Mas Mecaling Dalem Ped, Dianugerahi Ajian Kanda Sanga hingga Panca Taksu

Pernah juga, kata pemangku, ada angin kencang saat tarian sedang berlangsung yang dimungkinkan sebagai kedatangan Ida Bhatara untuk menonton langsung tarian sakral ini.

Halaman
1234
Penulis: AA Seri Kusniarti
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved