Breaking News:

Serba serbi

Apa Saja Pantangan Seorang Pemangku? Berikut Penjelasan Jro Mangku Ketut Maliarsa

Menurut keputusan Mahashaba Parisada Hindu Dharma Indonesia ke II, pada 5 Desember 1968, bahwa yang dimaksud dengan pemangku, adalah mereka yang

Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Tribun Bali/AA Seri Kusniarti
Para pemangku di Pura Campuhan Windhu Segara 

Setelah menjelaskan larangan yang harus dihindari pemangku.

Jro Mangku Ketut Maliarsa, menjelaskan bahwa pemangku harus dapat menerapkan Panca Yama Brata atau lima pengendalian diri.

Meliputi, Ahimsa, artinya tidak membunuh, tidak menyakiti, dan tidak melakukan kekerasan. Harus bersifat lemah lembut, cinta kasih (welas asih), dan persaudaraan.

Kemudian Brahmacari, artinya mengabdikan diri untuk selalu menuntut ilmu dan belajar ajaran-ajaran ketuhanan, atau ajaran agama dan Weda untuk dipergunakan mengabdi kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

“Selanjutnya, adalah sathya yang berarti melaksanakan kebenaran dan kejujuran dalam kehidupan. Selalu beretika dan berbudi baik dalam menerapkan Tri Kaya Parisudha. Diantaranya, manacika (berpikir), wacika (berkata), dan kayika (berbuat) yang baik,” jelasnya.

Ada pula Awyawaharika atau Awyawahara, artinya tidak berselisih, tidak berjual-beli, dan tidak berbuat dosa karena kepintaran.

Selalu menghindari diri, dari perselisihan atau pertengakaran agar tidak mengotori pikiran dan menggangu ketenangan/keduniawian jiwa.

Kelima adalah Astanya, atau Asteya yang berarti tidak mencuri atau mengambil hak milik orang lain.

Tanpa persetujuan yang mempunyai. Serta tidak boleh mementingkan diri sendiri, agar tidak menyakiti orang lain dari akibat perbuatan dan perkataan. (*)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved