Breaking News:

Pura di Bali

Babad Wongayah Dalem, Bantu Telusuri Sejarah Pura Maospahit

Jro Mangku Ketut Gede Sudiasna, menceritakan bahwa sejak Pura Maospahit, Banjar Grenceng, Pamecutan Kaja, Denpasar Utara ada, ia tidak mendapati

Tribun Bali/AA Seri Kusniarti
Salah satu Candi Raras di Pura Maospahit dengan patung teracota di depannya yang menjaga lengkap dengan senjata dan perisai. 

Dipengaruhi oleh budaya Majapahit yang sampai saat ini terlihat pada relief dan patung di tengah pura. Satu diantaranya patung teracota dari tanah liat.

Pengaruh Majapahit ini terus dibangun sampai rampung pada tahun 1475.

Berisi juga atiwa-tiwa atau prosesi upacara pembakaran mayat kala itu. Serta banyak informasi penting lainnya, yang menjadi titik terang keberadaan sejarah pura ini.

 "Semua itu saya salin, dan bawa ke Pura Maospahit. Sebagai informasi untuk umat dan semeton yang datang ke pura," jelasnya.

 Ia sangat senang, sebab paling tidak ada sejarah yang bisa menjelaskan tentang Pura Maospahit.

Penyalinan dilakukan ke dalam lontar, baik dengan aksara Bali dan juga aksara latin di buku. Lalu yang aksara latin diletakkan di gedong.

"Mungkin sudah saatnya beliau ingin agar kami menemukan ini. Sebab selama bertahun-tahun saya cari informasi tidak pernah menemukan. Bahkan sampai ke Gedong Kertya di Singaraja juga tidak ada informasi apapun tentang Pura Maospahit ini," tegasnya.

Nah setelah itu, sedikit demi sedikit muncul lagi yang lainnya seperti Pamancangah Maospahit.

Jumlahnya 33 lembar lontar tentang kehidupan kala itu. Serta 55 lontar tambahan lainnya yang melengkapi.

Uniknya lagi, setelah itu juru bersih-bersih pura menemukan selembar lontar di halaman pura.

Setelah dicarikan orang yang ahli dan dibaca lontar itu. Disebutkan bahwa jika purnama bertemu dengan pasah maka saat piodalan ida bhatara di Pura Maospahit, harus nyejer selama lima hari. Dan seterusnya tentang piodalan di Pura Maospahit.

"Nah setelah itu kami terus lakukan panyejeran, sebab sebelumnya hanya sehari saat odalan sudah nyineb," tegasnya.

Ia pun berharap, ke depan jika ada narasumber lain yang memiliki lontar tentang Pura Maospahit bisa memberikan informasi kepadanya.

Apalagi saat ini teknologi sangat canggih, informasi bisa dikirimkan via pesan elektronik atau telepon. Sehingga jro mangku bisa menyalinnya dan menaruhnya di Pura Maospahit.

Sebab saat ini sejarah tentang pura tersebut, masih sepenggal belum utuh.

 "Saya rasa pasti ada sambungan sejarahnya," jelasnya.

 Sebab tujuan dibangunnya pura ini, dan hal lainnya belum terang benderang. Sehingga jro mangku belum berani menyimpulkan seperti apa sebenarnya.

 Ia berharap semoga ke depan ada lagi kemunculan kisah lainnya tentang Pura Maospahit ini. (*)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved