Berita Bali

Selama Pandemi, Indonesia Kehilangan Daya Beli 374,4 Triliun, Bali Akan Jadi Contoh Quality Tourism

Selama Pandemi, Indonesia Kehilangan Daya Beli Sebesar Rp 374,4 triliun, Awal 2021 Ubud Jadi Pilot Project Quality Tourism

Tribun Bali/I Wayan Eri Gunarta
Foto: Menteri PPN/Bappenas, Suharso Monoarfa dalam konfrensi pers di Ubud, Gianyar, Bali, Senin (28/12/2020) 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYARBappenas'>Kementerian PPN/ Bappenas mengumumkan kondisi negara selama masa pandemi Covid-19, di Ubud, Gianyar, Bali, Selasa (28/12/2020).

Di mana berdasarkan data Bappenas, pandemi Covid-19 yang berlangsung hampir tujuh bulan ini, mengakibatkan negara kehilangan daya beli masyarakat akibat loss of income sebesar Rp 374,4 triliun.

Kondisi ini diakibatkan penurunan jam kerja di sektor industri dan pariwisata dengan utilitas 50 persen.

Menteri PPN/Bappenas, Suharso Monoarfa mengungkapkan, komponen penurunan daya beli ini tak terlepas dari pengangguran karena Covid-19 yang dialami 2,56 juta warga Indonesia hingga penduduk yang masih bekerja, namun mengalami pengurangan jam kerja, di mana hal ini dialami oleh 24,03 juta penduduk.

Baca juga: Di Bali Menteri Bappenas: Selama Pandemi Covid-19, Indonesia Kehilangan Daya Beli Rp 374,4 T

Baca juga: Update Covid-19 di Denpasar, Positif: 55 Orang, Sembuh: 36 Orang, Meninggal Dunia: 2 Orang

Baca juga: Gabriel Jesus dan Kyle Walker Positif Covid-19, Laga Everton vs Man City Ditunda

“Dampak pandemi, telah terjadi penurunan utilitas dan kehilangan jam kerja. Perhitungan Bappenas, kita kehilangan daya beli masyarakat akibat loss of income sebesar Rp. 374,4 triliun,” ujarnya.

Kata dia, pada 2021 nanti, PR besar Indonesia tidak saja pemulihhan ekonomi nasional, namun juga transformasi ekonomi dalam jangka menengah dan panjang.

Adapun yang akan dilakukan negara dalam hal ini adalah dengan enam strategi.

Mulai dari membentuk sumber daya manusia berdaya saing, produtivitas sektor ekonomi di bidang industrialisasi, UMKM dan modernisasi pertanian.

Strategi lain adalah menciptakan ekonomi hijau, meliputi ekonomi rendah karbon, blue economy dan transisi energi.

Terkait ekonomi hijau ini, Suharso mengatakan, ekonomi hijau tidak hanya untuk meningkatkan ekonomi dan mata pencaharian dalan jangka pendek, namun juga melindungi kesejahteraan untuk jangka yang lebih panjang.

Dia pun mencontohkan perbandingan pekerjaan antara sektor batu bara energi terbarukan.

Dalam sektor batu bara, untuk satu baru bara dibutuhkan satu pekerjaan per megawatt sementara energi surya dibutuhkan 10 pekerjaan per megawat. 

“Dari hasil energi baru terbarukan dan restorasi lahan gambut (skenario LCDI Transformasi Ekonomi) dapat menciptakan 103 ribu pekerjaan setiap tahun,” ujarnya.

Lebih lanjut dikatakannya, reformasi juga akan dilakukan dalam bidang pariwisata.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved