Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Liga Italia

Buffon Dinobatkan Kiper Terbaik Sepanjang Masa, Ungguli Casillas dan Lev Yashin

Mantan timnas Italia tersebut mengungguli sejumlah nama kiper legendaris dunia seperti Lev Yashin dan Iker Casillas.

Tayang:
Editor: DionDBPutra
AFP
Kiper Juventus Gianluigi Buffon dinobatkan sebagai kiper terbaik sepanjang masa. Dia mengungguli nama beken lainnya seperti Iker Casillas, Lev Yashin dan lainnya. 

TRIBUN-BALI.COM, MILAN - Pemain Juventus, Gianluigi Buffon dinobatkan sebagai kiper terbaik sepanjang masa.

Mantan timnas Italia tersebut mengungguli sejumlah nama kiper legendaris dunia seperti Lev Yashin dan Iker Casillas.

La Gazzetta dello Sport meminta 18 kiper dari 18 negara berbeda, baik yang masih aktif maupun sudah gantung sepatu, untuk memilih satu nama yang dianggap terbaik di posisi mereka.

Dari 18 kiper tersebut beberapa di antaranya adalah Manuel Neuer (Jerman), Peter Schmeichel (Denmark), Michel Preud'homme (Belgia), Dino Zoff (Italia), Julio Cesar (Brasil), serta eks kiper eksentrik timnas Meksiko, Jorge Campos.

Baca juga: Gianluigi Buffon Jelaskan Alasannya Belum Pensiun Pada Usia 42 Tahun

Baca juga: Gianluigi Buffon Akhirnya Kembali ke Rumah, Teken Kontrak Selama Semusim Bersama Juventus

Baca juga: Manajemen Juventus Janjikan Posisi Bagus Untuk Gianluigi Buffon Tapi Bukan Sebagai Kiper

Sebanyak tujuh suara dari 18 panelis itu sepakat menyebut Gianluigi Buffon sebagai kiper terbaik dunia sepanjang masa.

Manuel Neuer yang memenangi Piala Dunia 2014 bersama timnas Jerman dan Liga Champions 2020 dengan Bayern Muenchen menempatkan Buffon beserta Lev Yashin sebagai kiper terbaik sepanjang masa pilihannya.

"Gigi (Buffon) adalah pria besar yang hebat, dengan karakternya yang juga luar biasa," ucap Neuer.

"Bagi saya, dia selalu menjadi contoh, bukan hanya di atas lapangan. Seorang kiper dengan refleks fenomenal," imbuhnya.

Pujian juga datang dari dari Julio Cesar yang sering beradu teknik dengan Buffon saat kiper Brasil itu memperkuat Inter Milan.

"Saya menjadi kiper yang lebih baik karena Buffon. Saya berterima kasih kepadanya, khususnya sejak saya tiba di Italia," kata Cesar.

"Bagi saya, Gigi adalah contoh dan juga sosok yang memberikan motivasi seumur hidup. Saya tumbuh setiap hari dengan belajar darinya," tandasnya.

Sementara Dino Zoff turut memberikan pujian kepada Gianluigi Buffon meski ia tidak menempatkan nama Buffon sebagai kiper terbaik sepanjang masa pilihannya.

Baca juga: Robert Rene Alberts Sebut Kiper Asal Bali Ini Layaknya Gianluigi Buffon

Zoff lebih memilih Yashin, Sepp Meier, Gordon Banks, serta dirinya sendiri.

"Sejak 1995, Gigi telah berada di level atas. Dia adalah pemain hebat sejak masih muda," puji Zoff.

"Kebaikan terbesar yang dia miliki adalah kesinambungan, bahkan sangat sulit untuk membandingkannya dengan (kiper) pada era yang berbeda," imbuh eks pemain yang juga pernah membela Juventus itu.

Gianluigi Buffon menembus tim utama Parma pada 1995 saat usinya baru 17 tahun.

Pada tahun yang sama, kiper kelahiran Carrara itu melakoni debut profesionalnya.

Gianlugi Buffon membela Parma hingga 2001, lalu pindah ke Juventus dan meraih banyak kesuksesan di sana.

Sempat berseragam Paris Saint-Germain pada 2018-2019, Buffon memutuskan kembali ke Juventus dan bertahan hingga kini.

Gianluigi Buffon mencatatkan 176 caps bersama timnas Italia dan ikut menjuarai Piala Dunia 2006 yang digelar di Jerman.

Dihantui Kenangan Buruk

Kiper Juventus, Gianluigi Buffon, mengaku masih belum bisa melupakan kenangan buruk dipermalukan Manchester United pada 2019.

Kenangan buruk itu didapat Buffon saat membela Paris Saint-Germain pada laga leg kedua 16 besar Liga Champions.

PSG saat itu menjamu Man United di Stadion Parc des Princes dengan modal kemenangan 2-0 dari leg pertama.

Modal tersebut membuat PSG hanya butuh hasil imbang ataupun kalah dengan selisih satu gol untuk lolos ke perempat final.

Namun, apa yang diharapkan PSG tidak terjadi pada leg kedua. PSG justru dipermalukan Man United 1-3 di depan para pendukungnya sehingga harus tersingkir karena kalah agresivitas gol tandang.

Kekalahan itu tentu terasa sangat menyakitkan bagi PSG karena gol ketiga Man United diciptakan Marcus Rahsford pada masa injury time babak kedua (90+4') dari titik penalti.

Buffon yang kini sudah kembali ke Juventus mengaku masih belum bisa melupakan kenangan pahit tersebut.

Kiper asal Italia itu juga mengaku menyesal karena menjadi salah satu biang keladi dari kekalahan PSG pada leg kedua.

Pernyataan Buffon itu merujuk kepada gol kedua Man United yang dicetak Romelu Lukaku pada menit ke-30.

Sebab, gol Lukaku itu berawal dari kesalahan Buffon yang gagal menangkap dengan sempurna bola tembakan jarak jauh Marcus Rashford.

"Saya masih memikirkan pertandingan leg kedua melawan Man United itu setidaknya tiga sampai empat kali seminggu," kata Buffon dikutip dari situs Marca.

"Saya melakukan kesalahan besar (pada leg kedua). Kesalahan yang seharusnya tidak saya lakukan dengan pengalaman yang saya miliki," tutur Buffon menambahkan.

Buffon mengakui dirinya dan PSG sedikit meremehkan Man United pada leg kedua karena memiliki modal kemenangan 2-0.

Buffon pada akhirnya hanya bisa menyesal karena pikiran meremehkan lawan itulah yang membuat PSG tersingkir.

"Pada musim itu, kami yakin bisa mencapai final. Di Manchester, kami berhasil meraih kemenangan hebat. Kemenangan itu menunjukkan betapa besarnya kekuatan kami," ucap Buffon.

"Kami pikir laga leg kedua itu hanyalah formalitas dan saya terbawa suasana. Kami saat itu berpikir sudah lolos karena unggul 2-0, sementara Man United memainkan banyak pemain muda," tutur Buffon.

"Kenangan buruk itu menimbulkan banyak penyesalan," ucap Buffon menambahkan. Bersama PSG, Buffon hanya bertahan satu musim dan memutuskan kembali ke Juventus pertengahan tahun lalu.

Buffon kembali ke Juventus tanpa hanya dengan membawa dua gelar domestik, yakni Liga dan Piala Super Perancis. Setelah ditinggal Buffon, PSG justru berhasil mencapai final Liga Champions.

Namun, PSG gagal memanfaatkan kesempatan untuk meraih gelar Liga Champions pertamanya seusai kalah 0-1 dari Bayern Muenchen pada final musim lalu.
Melihat perkembangan pesat PSG, Buffon yakin dalam waktu dekat mantan timnya tersebut akan mendapatkan trofi Liga Champions.

"PSG tidak kekurangan apa-apa. Mereka adalah tim hebat yang bisa menang melawan siapa pun," kata Buffon.

"Satu-satunya kekurangan PSG mungkin adalah mental," kata Buffon.

Artikel ini sudah tayang di Kompas.com berjudul Kalahkan Nama-nama Legendaris, Buffon Jadi Kiper Terbaik Sepanjang Masa

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved