Breaking News:

Pura di Bali

Cerita Batu Perahu, Saksi Bisu Kisah Kedatangan Ratu Gede Mas Mecaling dari Nusa Penida ke Kesiman

Terlihat jelas dari atas pura di sebelah utara jembatan, ada sebuah batu besar melintang di tengah sungai. Batu itu diberikan nama batu perahu.

Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Wema Satya Dinata
Tribun Bali/AA Seri Kusniarti
Batu perahu di tengah-tengah sungai Ayung sebelum jembatan Balitex di Denpasar. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, A A Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Dahulu kala, ada kisah turun-temurun yang dipercayai masyarakat Desa Adat Kesiman.

Ihwal kedatangan Ida Bhatara Ratu Gede Mas Mecaling ke Kesiman dari Nusa Penida.

Hingga terkait dengan kepercayaan banyak orang, akan angkernya jembatan Balitex yang membentang di atas sungai Ayung.

I Wayan Turun, warga Banjar Kedaton, Desa Adat Kesiman, Denpasar, mengisahkannya kepada Tribun Bali.

Baca juga: Nunas Tamba di Pura Goa Peteng, Tempat Melukat yang Ada di Dasar Goa yang Sangat Gelap

Salah satu tetua desa ini, menjelaskan bahwa sungai Ayung memang dikenal sebagai sungai yang tenget atau angker.

“Tukad Ayung ini dari kata ‘Ayu’ dan dikenal sangat angker, karena dahulu termasuk bagian dari perjalanan Ida Bhatara Ratu Gede Mas Mecaling. Beliau datang dan membawa ancangan (antek-antek) sekitar 15 banyaknya,” jelasnya di Denpasar beberapa waktu lalu.

Satu diantara antek-anteknya bernama I Kala Bebaung, yang merupakan penguasa pinggir samudera atau pantai.

Dari kisah terdahulu, disebutkan bahwa ketika sasih keenam maka Ida Bhatara Ratu Gede Mas Mecaling akan jalan-jalan ke Kesiman.

Ketika saat itu tiba, maka semua penduduk memilih diam di rumah.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved