Menurut Psikolog, Ini Alasan Seseorang Menghapus Foto Profil Pada Sosial Medianya

Made Ayu Praditya Larashati, M.Psi berikan beberapa penjelasan bagaimana berkomunikasi di sosial media

Gambar oleh William Iven dari Pixabay
Ilustrasi Foto Sosial Media Facebook - Menurut Psikolog, Ini Alasan Seseorang Menghapus Foto Profil Pada Sosial Medianya 

Laporan Wartawan, Ni Luh Putu Wahyuni Sri Utami

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Jika diperhatikan, hampir 80 persen aktivitas yang kita lakukan sehari-hari berkaitan dengan sosial media yang dimiliki, sehingga tidak jarang kita menganggap sosial media menjadi wadah yang tepat dan praktis untuk berinteraksi dengan orang lain.

Made Ayu Praditya Larashati, M.Psi selaku Psikolog yang bertugas di RS Bhayangkara Denpasar, Bali, berikan beberapa penjelasan bagaimana berkomunikasi di sosial media.

"Biasanya ketika kita berinteraksi secara langsung dengan seseorang, ada komunikasi non-verbal seperti gesture tubuh, nada suara, ekspresi muka, dan lain-lainnya, yang kita tunjukkan saat berbicara berdampak cukup besar terhadap isi dari apa yang kita sampaikan secara verbal. Hal ini dikarenakan lawan bicara kita akan menggunakan informasi dari komunikasi non-verbal tersebut untuk lebih melengkapi pesan yang ia terima dari kita," jelasnya, Sabtu (9/1/2021).

Namun, ketika berinteraksi di sosial media, tentu komunikasi non-verbal akan sulit ditemukan, sehingga kita mulai mencari informasi atau pesan-pesan tambahan di luar dari isi pembicaraan untuk mendukung pemahaman kita terhadap konteks yang dibicarakan atau konteks yang diunggah untuk mendukung interaksi yang akan terjalin.

Baca juga: Awas, 5 Perilaku Ini Menandakan Anda Sudah Kecanduan Sosial Media, Apa Saja Itu ?

Baca juga: 6 Zodiak yang Memiliki Peluang Besar Jadi Influencer Sosial Media, Apa Zodiakmu Diantaranya ?

Baca juga: 8 Masalah Psikologis yang Diidap Orang-Orang dengan Kamar Berantakan, Dramatis hingga Tidak Dewasa

Cari informasi atau pesan tambahan lainnya bisa dengan melihat foto dari profile picture, penggunaan emoji atau emoticon, melihat gambar-gambar yang diunggah dan lain-lainnya.

Ayu juga mengatakan, tidak jarang dengan hal tersebut kita menjadi cukup mudah menyimpulkan apa yang terjadi dalam kehidupan teman-teman kita sehari-hari dari apa yang mereka unggah, karena kita menangkap pesan dari komunikasi non-verbal yang diperoleh dari konten yang diunggah di sosial media mereka.

Pesan yang ditunjukkan oleh teman-teman kita ketika mengunggah konten dapat dilakukan secara eksplisit (terang-terangan) maupun implisit (tersembunyi).

"Semakin lincahnya kita berinteraksi dengan sosial media, hal ini membuat kita cukup sulit untuk memisahkan peran sosial media dan bagaimana kita berinteraksi kepada orang-orang yang kita kenal. Sehingga sering sekali muncul kelekatan tertentu dalam diri kita dengan akun sosial media yang kita miliki. Kondisi ini membuat sosial media secara tidak langsung menjadi bagian dari kehidupan, bahkan bagi beberapa orang sosial media yang dimiliki dapat merepresentasikan diri mereka seperti apa," sambungnya.

Beberapa contohnya seperti, ketika ada seseorang sedang asyik kumpul-kumpul dengan sahabat kecilnya, dia secara otomatis mengambil foto dari situasi yang sedang berlangsung dan mengunggahnya ke sosial media.

Dari unggahan tersebut kita bisa menangkap pesan bahwa seseorang tersebut merasa begitu senang dan antusias karena bertemu sahabat kecilnya.

"Contoh lainnya, misalkan ada seseorang yang ingin menunjukkan dirinya sebagai sosok pencinta adventure, maka untuk menyampaikan maksud tersebut, orang tersebut mengunggah dan mengganti foto profile di akun instagramnya dengan foto-foto dimana dirinya sedang mengendarai ATV atau aktivitas outdoor di suatu tempat pariwisata yang pernah dikunjungi," tambahnya.

Hal serupa dapat terjadi pada beberapa orang yang mengganti foto profile sosial medianya dengan warna hitam atau membiarkan foto profilenya kosong maupun tindakan esktrim dengan menghapus sosial media ketika mereka sedih atau tertimpa masalah.

Di mana mereka mencoba untuk berkomunikasi secara tidak langsung oleh orang-orang di sekitarnya bahwa mungkin ia ingin menunjukkan diri mereka tidak sedang baik-baik saja, atau mungkin ia membutuhkan waktu sendiri, ingin fokus menyelesaikan masalah yang dihadapi, dan masih banyak alasan lainnya.

Namun, kita tidak dapat menyamaratakan semua orang yang mengganti foto profile menjadi kosong atau menghampus sosial medianya sedang bersedih atau tertimpa masalah.

Karena tindakan tersebut merupakan bentuk dari komunikasi non-verbal dari beberapa orang di dunia maya.

Sehingga penting sekali untuk kita tidak langsung menilai atau menyimpulkan sesuatu dari apa yang diunggah oleh seseorang di sosial medianya.

"Ada baiknya kita melihat kembali karakter orang tersebut seperti apa dan menanyakan secara langsung apa yang sedang mereka alami, sehingga kita lebih memahami pesan atau maksud-maksud tertentu dengan tepat dari unggahan mereka," tutupnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved