Saking Takutnya Terhadap Gempa di Majene, Ada Warga yang Ungsikan Keluarga ke Kandang Ayam
Kondisi ini menyebabkan banyak bangunan rusak parah, adanya korban jiwa, luka hingga akses publik seperti jalan dan listrik terputus.
TRIBUN-BALI.COM– Gempa bumi di Majene, Sulawesi Barat terjadi lebih dari satu kali dengan kekuatan paling besar adalah dini hari tadi yaotu 6,2 Skala Ritcher.
Kondisi ini menyebabkan banyak bangunan rusak parah, adanya korban jiwa, luka hingga akses publik seperti jalan dan listrik terputus.
Ketakutan warga pun tak terelakkan, ada warga yang takut tsunami dan gempa susulan.
Baca juga: Majene Diguncang Gempa 6,2 SR Pada Dini Hari, Kantor Gubernur Sulbar Dan Hotel Ambruk
Baca juga: Gempa Majene, 3 Korban Meninggal, 24 Luka, Ribuan Mengungsi, Akses Jalan Dan Listrik Putus
Oleh sebab itu ratusan hingga ribuan warga di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat dilaporkan tengah mengungsi.
Saking takutnya ada warga yang mengungsikan keluarga dan anak-anak mereka ke kandang ayam atau rumah kebun yang diperkirakan aman dari gempa.
Gempa tektonik magnitudo 5,9 pada Kamis (14/1/2021) yang berpusat di Kecamatan Malunda Majene, menyebabkan dua tebing batu di jalur Trans Sulawesi longsor.
Bongkahan batu raksasa yang menggelinding membuat warga setempat dan pengendara khawatir mendekati titik longsor.
Akses jalan tertutup bongkahan batu raksasa yang ukurannya melebihi ketinggian manusia.
Kabid Kedaruratan BPBD Majene Sirajuddin menyebutkan, pihaknya kini terus melakukan validasi data kerusakan pasca genpa.
Namun menurutnya gempa tektonik yang berpusat di Majene, menyebabkan 2 titik pegunungan di wilayah Majene longsor.
Bongkahan batu raksasa terus mengelinding dan menutup akses jalan Trans Sulawesi.
Pihaknya telah berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait longsor di jalan Trans Sulawesi.
Hingga kini, tim tanggap bencana dan semua stakeholder seperti TNI-polisi dan Dinas Perhubungan terus berkoordinasi agar akses jalan yang tertutup longsor bisa diakses warga dan pengguna jalan secara normal.
“Kami sementara masih melakukan pendataan lasca gempa. Ada 2 titik longsor yang menutup akses jalan Trans Sulawesi. 20 rumah warga dilaporkan rusak berat hingga rusak ringan. Sementara ada ratusan warga yang takut gempa susulan mengungsi ke kandang ayam. Saat ini kita sedang melakukan edukasi kepada masyarakat pascagempa,”jelas Sirajuddin.
Sementara warga yang panik dan khawatir adanya gempa susulan memilih mengungsi malam hari ke berbagai lokasi.
Warga di Kecamatan Malunda, Majene misalnya mengungsi ke kandang ayam bersama istri dan anak-anak mereka.
Sejumlah keluarga lainnya mengungsi ke rumah kebun yang diperkirakan aman dari bencana gempa jika sewaktu-waktu terjadi.
Pemerintah setempat telah melakukan pendataan sementara, tercatat ada sekitar 20 rumah warga yang dilaporkan mengalami keruskanan parah hingga ringan.
Meski berbagai instansi pemerintah serentak melakukan edukasi melalui berbagai saluran terkait situasi pascagempa, namun warga tetap saja ada yang panik dan ketakutan terkait gempa susulan hingga mereka memilih mengungsi ke kandang ayam atau rumah kebun dan tenda darurat.
Sirajuddin mengatakan, tim penanggulangan bencana telah turun bersama melakukan edukasi pascagempa. Pemerintah mengimbau warga agar tidak mudah terprovokasi dengan informasi yang tidak jelas asal usulnya.
Gempa Dini Hari 6,2 SR
Adapun gempa 6.2 SR juga terjadi Jumat Jumat (15/1/2021) pukul 01:28:17 WIB. berpusat 6 km Timur Laut MAJENE-SULBAR di kedalaman 10 Km.
Kekuatan guncangan gempa 6.2 mencapai level IV-V MMI di Majene.
Sedangkan di Palu, level guncangan mencapai III MMI dan di Makassar level II MMI.
Sebelumnya kekuatan gempa 5.9 Kamis dirasakan di Kabupaten Polewali (IV-V MMI), Mamuju dan Majene (IV MMI), serta Mamuju Utara dan Mamuju Tengah (III-IV MMI).
Selain di Sulbar, gempa juga terasa di beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan yang berdekatan dengan Sulbar, seperti di Toraja (III MMI) serta di Pinrang, Pare-pare, dan Wajo (II-III MMI).
MMI merupakan skala intensitas gempa yang mengukur dampak getaran terhadap kondisi sekitar dengan skala I (paling rendah) hingga XII (tertinggi).
Saat terjadi gempa 6.2, sejumlah warga di Kecamatan Campalagian Kabupaten Polewali Mandar berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri.
"Ada gempa," teriak warga sembari keluar rumah.
Getaran gempa lebih besar dibandingkan gempa pertama dan waktunya lebih lama.
Beberapa gempa susulan terjadi pascagempa 6.2.
Namun kekuatannya terus menurun.
Mulai dari Mag:3.9, Mag:4.0, Mag:2.9, Mag:3.0, Mag:3.4, Mag:3.2, dan Mag:2.6 hingga pukul 03.00 WIB.
Dalam sebuah video singkat yang diterima tribun-timur.com, tampak warga mendatangi Kantor Gubernur Sulawesi Barat yang tampak rusak cukup parah.
“Kantor Gubernur Sulbar ambruk. Hancur. Alhamdulillah masih diberi keselamatan. Hotel Matos (Mamuju), hancur,” kata warga yang merekam gambar yang tersiar Jumat (15/1/2021) dini hari.
Jarak antara Mamuju dengan lokasi gempa di wilayah Malunda, Majene sekira 100-an KM.
Sedangkan kantor Gubernur Sulbar beralamat di Kompleks Perkantoran Gubernur, Jl. Abdul Malik Pattana Endeng, Rangas, Kecamatan Simboro Dan Kepulauan, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat.
Kantor Gubernur Sulbar dibangun 2010 dengan menggunakan dana APBN
Anggaran pembangunan Kantor Gubernur dan DPRD Sulawesi Barat sekitar Rp 68,5 miliar melalui APBN 2011.
Sebelumnya pembangunan Kantor Gubernur Sulbar telah menelan anggaran hingga Rp75 miliar sesuai penyampaian PT India Karya pada 2010 melalui anggaran APBN.
Sehingga pembangunan Kantor Gubernur dan DPRD Sulawesi Barat menelan dana Rp 152.4 miliar.
Sedangkan Pemerintah Provinsi Sulbar dan DPRD Sulbar telah mengalokasikan anggaran untuk
perampungan pembangunan kantor gubernur dan DPRD Sulbar tersebut melalui APBD tahun 2011 sekitar
Rp19,8 miliar.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Gempa Majene, Warga Mengungsi ke Kandang Ayam dan Rumah Kebun"