Breaking News:

Berita Buleleng

Buleleng Gali Cerita Rakyat di 148 Desa, Dirangkum dalam Buku dan Dijadikan Bahan Ajar Siswa

Buleleng Gali Cerita Rakyat di 148 Desa, Dirangkum dalam Buku dan Dijadikan Bahan Ajar Siswa

Tribun Bali/Ni Kadek Rika Riyanti
Ilustrasi mendengarkan cerita rakyat - Buleleng Gali Cerita Rakyat di 148 Desa, Dirangkum dalam Buku dan Dijadikan Bahan Ajar Siswa. 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Sebagai upaya untuk melestarikan budaya yang ada di Buleleng, Dinas Kebudayaan Buleleng menggali cerita rakyat yang ada di seluruh desa, untuk dirangkum dalam sebuah buku, serta dijadikan sebagai bahan ajar. 

Kepala Dinas Kebudayaan Buleleng, Gede Dody Sukma Oktiva Askara dikonfirmasi Minggu (17/1/2021) mengatakan, sesuai UU Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, ada 10 objek pemajuan kebudayaan, salah satunya tradisi lisan, yang meliputi cerita rakyat, rapalan, dongeng atau ekspresi lisan lainnya. 

Untuk diketahui, Buleleng memiliki keanekaragaman cerita, baik berdasarkan mitos atau nilai sejarah.

Tahun 2021 ini pihaknya pun memutuskan untuk menyusun cerita rakyat yang ada di 148 desa dalam sebuah buku, serta dijadikan sebagai bahan ajar di tingkat PAUD, SD dan SMP. 

Baca juga: Bertugas sebagai Tukang Ambil Cuk, Anak di Bawah Umur Jadi Tersangka Judi Tajen di Buleleng

Dalam penyusunan cerita rakyat ini, Dody mengaku bekerjasama dengan penyuluh Bahasa Bali yang ada di masing-masing desa, serta tim yang sudah dibentuk di Disbud Buleleng.

"Nanti yang bergerak mencari tema cerita di masing-masing desa adalah penyuluh bahasa bali. Mereka juga bertugas mewawancarai sesepuh yang ada di desa itu, untuk menggali bahan cerita yang dibuat. Atau bisa juga melihat rujukan dari babat atau lontar yang ada di masing-masing desa," jelasnya. 

Setelah bahan terkumpul, tim yang ada di Disbud Buleleng akan melakukan proses kurasi.

Baca juga: Gelar Upacara Adat atau Agama di Buleleng Wajib Minta Izin ke Satgas Kabupaten

Proses kurasi dilakukan untuk memilih cerita rakyat mana yang akan diprioritaskan diterbitkan, serta cerita rakyat mana yang datanya masih harus dilengkapi.

"Yang dirasa sudah lengkap dan layak, akan dinaikan statusnya di forum grup diskusi (FGD) yang melibatkan pemerhati budaya, kalangan akademisi. Jika dalam FGD itu cerita yang dibuat sudah dianggap bisa dipertanggung jawabkan untuk disebar luaskan, maka cerita akan dialih bahasa dan alih tulisan. Bukunya akan berhuruf latin bahasa Indonesia dan Bali, serta berhuruf simbar aksara bahasa Bali," terangnya. 

Ditargetkan, kumpulan cerita rakyat ini bisa diserahkan ke Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Buleleng pada April mendatang, agar bisa dijadikan sebagai bahan ajar muatan lokal Bahasa Bali ditingkat PAUD, SD dan SMP.

Halaman
12
Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved