Breaking News:

Wawancara Tokoh

Ditinggal Ayah Saat Umur Tiga Bulan, Tamba Jualan Es Hingga Pencari Batu Kali

Tamba dikenal sebagai politisi partai bintang mercy, dengan dua kali duduk sebagai anggota legislatif tingkat Provinsi Bali.

Tribun Bali/Made Ardhiangga
Tamba saat ditemui Tibun Bali di kediamannya Rabu 27 Januari 2021 

Dari sewa-menyewa kaset itu pulalah kemudian, tingkat membacanya menjadi semakin tinggi.

Setiap kali menjaga toko kasetnya, ia pergi ke perpustakaan dan membaca buku di tokonya.

Salah satunya strategi perang Sun Tzu, di bawah bendera revolusi Bung Karno.

Dan paling ia sukai ialah serial komik Ko ping hoo.

“Jadi saat menjaga toko kaset saya baca buku. Dan serial komik ko ping hoo itu yang saya paling suka. Kalau sampai tidak dapat satu seri saja, bisa mikir sampai sakit,” ungkapnya.

Lanjutnya, setelah SMA kemudian, ia berkuliah di Fakultas Hukum Universitas Udayana.

Dan ia pun, sudah bekerja di beberapa tempat kerja.

Bahkan, dari setiap pekerjaannya ia tidak pernah menjadi staf.

Paling tidak ia sekelas manajer.

Dan akhirnya dari sekian banyak perusahaan yang ia ikuti, kemudian disimpulkan untuk berbisnis advertising.

Bahkan ia merantau ke Surabaya dahulu untuk mempelajari bisnis advertising.

Dan akhirnya dirinya membangun advertising pada 1998-an yakni bisnis advertising di Denpasar.

Tamba mengaku, akhirnya setelah merintis bisnis itulah ia memantapkan diri untuk terjun ke politik. Pada 2004 masuk dari partai PNBK, hanya saja ia gagal menjadi anggota DPRD Provinsi.

Alasannya terjun ke politik ialah sebagai tantangan ingin membantu masyarakat dan lebih banyak bersosialisasi.

Gagal di PNBK, ia pun akhirnya berpindah ke Partai Demokrat pada 2006.

Jadi Gong Koalisi Jembrana Maju, Ini Alasan PKB Putuskan Usung Tamba-Ipat di Pilkada Serentak 2020

Dapat Rekomendasi dari 10 Partai, Besok Siang Tamba-Ipat Daftar ke KPU Jembrana

Kemudian di Demokrat, Tamba berhasil duduk di legislatif, pada 2009.

Hingga akhirnya, ia duduk sebagai ketua fraksi pada 2009 dan berada di Komisi II.

Kemudian pada 2014 baru menjadi ketua komisi III DPRD Provinsi Bali. Meskipun pada 2019 ia mengaku pernah gagal dalam Pileg. 

“Dalam kekalahan di 2019 itu bisa diraba. Saya memang waktu itu tidak memaksimalkan dalam bergerak ke masyarakat. Sehingga berpengaruh pada suara. Saya juga saat itu sibuk sebagai ketua komisi dan jarang turun ke masyarakat. Jarang berinteraksi, bahkan hibah yang disalurkan tidak menargetkan menjadi suara karena saya yakin itu hak rakyat. Karena tidak pernah saya mengkonversikan hibah menjadi suara itulah saya kalah. Tapi keyakinan itu terbayar sekarang rakyat percaya pada saya untuk memimpin Jembrana,” paparnya.

Tamba menambahkan, bahwa segala kisah dari mulai ia kecil hingga memimpin Jembrana ke depannya itu tidak membuat ia jumawa.

Saat ini, ia mengaku bahwa segala yang diberikannya itu adalah berkah dan pemberian Tuhan Yang Maha Esa.

Sehingga, ia setelah melalui proses semua ini, ia merasa bahwa  ini pemberian atau titipin yang haru ia jaga.

Dan ia kini lebih sering mendatangi tempat-tempat suci.

Atau nangkil ke pura-pura, untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta.

Ke Surabaya kapan lalu, ia pun sempat mendatangi tempat suci di sana hanya untuk meminta terus dijaga oleh Sang Pencipta.

“Tempat suci itu seperti ke tempat kekasih saya. Saya jauh lebih bersyukur bahwa semua yang saya dapatkan ini ialah pemberian Tuhan Yang Maha Esa,” ungkapnya lagi.

Tamba sendiri merupakan suami dari  Gusti Ayu Ketut Candrawati.

Ia menikah dengan istrinya itu pada tahun 1989 dan dikarunia tiga orang anak.

Anak pertama bekerja di salah satu hotel Bontang lima, yang kedua mengambil alih perusahaan advertisingnya dan merupakan tamatan dari Binus Jakarta.

Dan kemudian yang ketiga masih kuliah hukum di Unud.

Ia mengaku segala kemenangannya ialah kemenangan rakyat.

Sehingga ia akan menjalankan segala program program dari visi misi yang ia lontarkan pada masa kampanye lalu.

Sedangkan untuk karier organisasinya, ia merupakan pembina golf club, Penasihat PMI Bali, ketua P3i Bali, wakil ketua Kadin Bali.

Dan hobinya ialah Golf, yang sudah ia mulai sekitar lima tahun sejak duduk menjadi Ketua komisi III.

Golf memiliki pergaulan yang luas, Dimana persahabatan menjadi kunci mencari teman.

Dan belajar fokus. Golf itu berbeda dengan olahraga lain, karena golf harus fokus dan tentu saja soal komitmen. Dimana 

Golf berpasangan saat bermain, dan wajib hukumnya bermain bersama. 

“Karena komitmen maka ketika disepakati jam tujuh bermain maka jam 6 harus sudah bangun dan bersiap ke lapangan. Dan untuk perusahaan sudah saya limpahkan ke anak dan saya akan fokus membangun Jembrana,” bebernya.

Penulis: I Made Ardhiangga Ismayana
Editor: Noviana Windri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved