Breaking News:

Kisah Lulusan S2 di Jerman Masih Menganggur Padahal Sudah Melamar 800 Kali Pekerjaan & 80 Wawancara

Setelah itu, pria asal Suriah berusia 29 tahun itu telah megajukan sekitar 800 lamaran pekerjaan dan melakukan 80 wawancara.

TWITTER @AbdulTizini
Lulusan S2 di RWTH Aachen, Jerman, Abdul Kader Tizini, kini masih menganggur setelah memasukkan 800 lamaran pekerjaan dan melakukan 80 wawancara. 

TRIBUN-BALI.COM - Saat Abdul Kader Tizini lulus S2 jurusan teknik mesin dari RWTH Aachen, salah satu universitas teknik ternama di Jerman, dia mengira membutuhkan waktu hanya beberapa pekan sebelum akan mendapatkan pekerjaan impiannya.

Lebih dari sebulan setelah Tizini lulus, virus corona menyebar ke Jerman sehingga membuat banyak bisnis terpuruk dan pekerjaan sulit didapat.

Setelah itu, pria asal Suriah berusia 29 tahun itu telah megajukan sekitar 800 lamaran pekerjaan dan melakukan 80 wawancara.

Namun hingga saat ini, dia masih menganggur sebagaimana dilansir dari Reuters, Kamis 4 Februari 2021.

Kunjungi Bali, Sandiaga Uno: Saya Dengar di Bali Banyak yang Kehilangan Pekerjaan

Menjadi orang asing merupakan sebuah ketidakberuntungan baginya dalam mendapatkan pekerjaan di Jerman, bahkan sebelum pandemi.

Tizini mengatakan, itu merupakan hambatan. Apalagi di masa pandemi seperti ini, jumlah lowongan menjadi lebih sedikit.

"Perusahaan berpikir, 'Dengan orang asing kami harus menjelaskan gagasan itu dua kali, dengan orang asli (Jerman) hanya sekali'," katanya kepada Reuters.

Gelombang PHK di ribuan perusahaan Jerman membuat orang asing seperti Tizini menghadapi persaingan ketat dengan lulusan asli Jerman dan profesional yang menganggur.

Warga negara Jerman dan Uni Eropa berhak atas tunjangan pengangguran dan bantuan virus corona.

Dan itu tidak didapatkan oleh banyak orang asing yang berada di Jerman.

Halaman
1234
Editor: Wema Satya Dinata
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved