Polisi Tahan Nelayan Miskin Thailand yang Mendadak Terkenal Setelah Temukan Mutiara Langka
Daily Mail pada Senin 8 Februari 2021 melaporkan, polisi setempat menemukan ribuan tablet metamfetamin di rumah pria berumur 37 tahun itu.
TRIBUN-BALI.COM, BANGKOK - Polisi menahan seorang nelayan miskin Thailand yang mendadak terkenal setelah dia menemukan mutiara oranye langka senilai 10 juta Baht atau setara Rp 4,6 miliar.
Penahanan itu ditempuh pihak berwenang lantaran si nelayan diduga merayakan kekayaannya dengan mengadakan pesta sabu bagi teman-temannya.
Menurut warta media setempat, nelayan bernama Hatchai Niyomdecha mengundang teman-temannya ke rumahnya di Nakhon Si Thammarat, Thailand, Jumat 5 Februari 2021, setelah dia mendapat uang Rp 4,6 miliar.
Daily Mail pada Senin 8 Februari 2021 melaporkan, polisi setempat menemukan ribuan tablet metamfetamin di rumah pria berumur 37 tahun itu.
• 4 Fakta Penembakan Brutal Tentara Thailand, Dipicu Masalah Ini dan Masih Sempat Live FB Saat Beraksi
• 10 Negara Konfirmasi Terserang Virus Corona, Menyebar dari Amerika, Perancis hingga Thailand
Aparat kepolisian menerima laporan dari tetangganya yang mengeluh tentang musik keras dan mengklaim mereka bisa mencium bau narkoba.
Nelayan Thailand itu menjadi berita utama di seluruh dunia minggu lalu, setelah ia menemukan mutiara oranye yang langka dan salah satu yang termahal di dunia.
Dia menemukan mutiara oranye saat mengambil tiram di pantai tak jauh dari rumahnya.
Saat petugas bersenjata menggerebek properti Niyomdecha, tiga paket berisi zat tak dikenal dan ribuan tablet diduga ditemukan. Beberapa pipa sabu pun telah ditemukan di dalam rumah tersebut.
Polisi menyita barang-barang bukti itu, termasuk dua kotak zat tak dikenal dan satu kotak tablet metamfetamin yang diperkirakan berisi 16.000 buah tablet. Barang ini disembunyikan di dekat rumah keluarga.
Niyomdecha membantah kotak-kotak itu adalah miliknya. Tetapi ketika polisi melakukan tes forensik pada paket-paket itu, sidik jari nelayan itu ditemukan di seluruh kotak.
Kolonel Polisi Chokdee Srimuang mengatakan pihaknya sedang menyelidiki nelayan tersebut, atas jumlah obat yang tidak biasa itu.
Anggota keluarga yang tinggal bersamanya tak luput dari penyelidikan. Niyomdecha membantah tuduhan kepemilikan narkoba tersebut. Tapi tetap dibawa ke kantor polisi dan ditahan setelah interogasi.
Nelayan Thailand berusia 37 tahun itu sedang mengambil kerang bersama keluarganya, ketika mereka menemukan temuan langka di provinsi Nakhon Si Thammarat pada 27 Januari 2021.
Dia menemukan pelampung yang dibuang terdampar ke pantai dengan sejumlah cangkang. Tiga cangkang kerang yang menempel pada benda itu dibawa pulang oleh saudara laki-lakinya Worachat Niyomdecha, 35 tahun.
Mereka memberikan cangkang kerang itu kepada sang ayah, Bangmad Niyomdecha (60).
Dalam proses pembersihan, ayahnya menemukan mutiara langka. Mutiara oranye dibentuk oleh siput laut yang dikenal sebagai Melo Melo.
Benda langka itu disimpan di dalam cangkangnya, tidak seperti mutiara tradisional yang ditemukan di dalam tiram.
Hatchai menelepon istrinya, Worachat Niyomdecha, 35 tahun, dan kedua putranya untuk memeriksa permata indah seberat 7,68 gram itu bersamanya.
Mereka memutuskan untuk memeriksa nilainya keesokan harinya. Keluarga nelayan itu juga bertanya tentang mutiara oranye tersebut di antara tetangga mereka.
Penduduk sekitar berbondong-bondong ke rumah Hatchai, setelah mengetahui mutiara yang ditemukan bernilai sangat mahal.
Hatchai, yang melihat cangkang itu, mengaku bermimpi aneh beberapa hari sebelum menemukan permata yang berharga itu.
“Seorang pria tua berkulit putih dengan kumis panjang menyuruh saya untuk datang ke pantai agar saya dapat menerima hadiah. Saya pikir dia menuntun saya untuk menemukan mutiara.” ceritanya.
“Saya ingin menjual mutiara dengan harga tertinggi. Uang tidak hanya akan mengubah hidup saya, itu akan mengubah takdir saya. Seluruh keluarga saya akan memiliki kehidupan yang lebih baik.”
Dia percaya bahwa lelaki tua itu mungkin dewa yang ingin membantunya keluar dari kemiskinan, setelah mutiara itu dijual seharga 10 juta Baht.
Beberapa hari kemudian, seorang pengusaha kaya dari provinsi lain mendengar tentang mutiara tersebut.
Dia menawarkan untuk membeli mutiara dengan harga satu juta baht (Rp 467 juta), tetapi keluarganya menolak.
Pengumpul barang mewah lainnya yang gigih menaikkan tawaran menjadi lima juta baht (Rp 2,3 miliar) tetapi keluarganya tetap menolak. Mereka percaya bisa mendapatkan harga yang jauh lebih tinggi untuk itu.
Pembeli potensial ketiga, kali ini dari China. Setelah bernegosiasi dengan keluarga tersebut, dia membeli mutiara oranye langka yang disebut mutiara mule seharga 10 juta Baht (4,6 miliar).
Harga yang ditawarkan itu akhirnya sesuai dengan harapan sang keluarga nelayan. Tetapi pembeli ingin melihat sendiri apakah mutiara itu asli Melo.
Niyomdecha telah berencana terbang menemui sang pembeli di rumahnya untuk membeli mutiara bulan ini, tetapi penangkapan Niyomdecha mungkin mempersulit penjualan.
Mutiara berkisar dari coklat hingga kuning atau oranye, tergantung pada warna cangkang siput tempat permata itu tumbuh.
Dengan oranye menjadi warna yang paling mahal. Mereka biasanya ditemukan di Laut China Selatan dan Laut Andaman di lepas pantai Burma. Mutiara ini diproduksi oleh siput laut predator yang disebut Volutidae.
Tempat mutiara Melo ini ditemukan adalah di Nakhon Si Thammarat, wilayah pantai di Teluk Thailand. Arus laut dari Laut Cina Selatan seringkali mengarah ke sana.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com berjudul Nelayan Penemu Mutiara Oranye Langka Ditahan, Diduga Rayakan Kekayaan Baru dengan Pesta Narkoba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/foto-ilustrasi-tersangka-yang-di-borgol.jpg)