Berita Bali

Semakin Banyak Diminati Anak Muda di Bali, Tradisi 'Ngripta Prasi' Dinilai Akan Tetap Lestari

Hal ini terlihat dari wimbakara (lomba) ngripta prasi serangkaian Bulan Bahasa Bali 2021 di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya Provinsi Bali, Denpasar,

Dokumentasi Pemprov Bali
Wimbakara (lomba) ngripta prasi serangkaian Bulan Bahasa Bali 2021 di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya Provinsi Bali, Denpasar, Minggu 14 Februari 2021 

Laporan Jurnalis Tribun Bali, I Wayan Sui Suadnyana

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Generasi muda di era teknologi informasi saat ini ternyata masih ada yang menyukai kegiatan budaya “ ngripta prasi” atau menulis aksara dan menggambar di atas daun lontar.

 Hal ini terlihat dari wimbakara (lomba) ngripta prasi serangkaian Bulan Bahasa Bali 2021 di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya Provinsi Bali, Denpasar, Minggu 14 Februari 2021.

Seksi Lomba Bulan Bahasa Bali 2021, I Gusti Ngurah Wiriawan mengungkapkan, sebelumnya program Bulan Bahasa Bali telah menggelar workshop sehingga kali ini dilanjutkan dengan kegiatan lomba.

Respons anak-anak muda cukup baik, sehingga peserta workshop ataupun lomba cukup banyak.

Baca juga: 89 Lontar Prasi Disuguhkan dalam Pameran Bulan Bahasa Bali 2021

 Jika dahulu hanya diikuti 5 sampai 7 peserta, sekarang ada penambahan yakni diikuti 19 peserta.

“Dengan penambahan jumlah peserta ini membuktikan kalau masyarakat memiliki keinginan untuk melestarikan prasi.

Ini sebagai evaluasi untuk ke depannya.

Melihat peningkatan peserta tahun ini, tradisi Ngrepta Prasi tidak akan punah, bahkan optimis akan tetap lestari,” kata Wirawan dalam siaran persnya yang diterima Tribun Bali, Minggu 14 Februari 2021.

Wirawan mengungkapkan, dalam lomba ini para peserta mengangkat cerita dongeng yang berhubungan dengan manusia, lingkungan ataupun alam.

Ada pula cerita pewayangan yang kaya dengan pesan moral serta berbagai petuah.

Pelaksanaan lomba tetap menjalankan protokol kesehatan (prokes), yakni menggunakan masker, menjaga jarak yang diawasi langsung pihak panitia.

Para peserta diberikan tema oleh panitia, lalu ngripta prasi dengan mengembangkan tema yang diberikan dan memadukan dengan cerita yang pas.

 Para peserta harus menyelesaikan karyanya dengan waktu tiga jam untuk satu lembar lontar.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved