Breaking News:

Sebuah Pesan untuk Menjaga Kelestarian Alam dalam 'Tutur Korawisrama' di Bulan Bahasa Bali 2021

Sebuah sesolahan sastra bertajuk 'Tutur Korawisrama' menjadi salah satu garapan seni yang ditampilkan dalam perhelatan Bulan Bahasa Bali 2021.

Penulis: I Wayan Sui Suadnyana | Editor: Noviana Windri
istimewa
Sesolahan sastra bertajuk 'Tutur Korawisrama' menjadi salah satu garapan seni yang ditampilkan dalam perhelatan Bulan Bahasa Bali 2021 

"Jumlah penari 13 dalam frame, sedangkan penabuh menggunakan iringan musik midi," ungkap Gung De Rahma yang juga seorang koreografer dan pendiri Yayasan Pancer Langit itu.

Kisah 'Tutur Korawisrama' berawal dari keinginan Dewa Siwa untuk menguji kesetiaan istrinya, Dewi Uma.

Dewa Siwa kemudian mengutus Dewi Uma untuk turun ke dunia mencari susu lembu yang akan digunakan untuk mengobati sakitnya.

Dewi Uma mendapatkan susu tersebut, namun dengan cara yang tidak benar sehingga Dewa Siwa mengutuknya menjadi sangat menyeramkan dengan nama Durga Bhairawi.

Setelah sekian lama menjalani kutukan menjadi Durga Bhairawi menyebabkan rasa rindu kepada Dewa Siwa.

Durga Bhairawi kemudian turun ke dunia dan berubah wujud menjadi Kala Bhairawa.

Baca juga: Bulan Bahasa, Paguyuban Duta Bahasa Bali Gelar Lomba Reportase dan Menyanyi Lagu Pop Indonesia

Baca juga: Muda-Mudi Bali Ikuti Lomba Debat Berbahasa Bali Serangkaian Bulan Bahasa Bali 2020

Pada saat Dewa Siwa dan Dewi Uma dalam wujud Kala Bairawa dan Durga Bhairawi lalu mereka bersenggama. Dari tetesan sperma hasil bersenggama itu muncullah taru (pohon) pule, kepah, kepuh dan beringin. (*)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved