Serba Serbi

Jangan Bayar Utang, Ini Makna Rahina Buda Cemeng Ukir menurut Kepercayaan Hindu Bali

Buda Cemeng Ukir, sering disebut juga Buda Wage Ukir yang merupakan perpaduan dari Saptawara yaitu hari Rabu dan Pancawara berupa Wage dan diikuti

Net
Ilustrasi. Jangan Bayar Utang, Ini Makna Rahina Buda Cemeng Ukir Dalam Hindu Bali 

Laporan Wartawan Tribun Bali Anak Agung Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Buda Cemeng Ukir, sering disebut juga Buda Wage Ukir yang merupakan perpaduan dari Saptawara yaitu hari Rabu dan Pancawara berupa Wage  dan diikuti oleh perhitungan wuku Ukir.

"Hari suci ini untuk tahun sekarang jatuh pada hari Rabu, 17 Februari 2021 dan jika dilihat dari perhitungan kalender Bali, Buda Wage Ukir ini bertepatan juga pada pinanggal ke-6 sasih Kesanga Caka 1942," sebut Jero Mangku Ketut Maliarsa, kepada Tribun Bali.

Menurut keyakinan umat Hindu di Bali, kata dia, hari Suci Buda Cemeng Ukir adalah pemujaan terhadap Ida Sang Hyang Widhi Wasa,Tuhan Yang Maha Esa dengan manifestasinya sebagai Dewi Laksmi yaitu saktinya Dewa Wisnu.

"Umat Hindu sangat meyakini bahwa Dewi Laksmi atau Ida Bhatari Sri Rambut Sedana adalah Dewi yang menganugerahkan kesejahteraan, kemakmuran dan kesuburan kepada umat sedharma," sebutnya.

Baca juga: Buda Wage Ukir, Baik untuk Melakukan Renungan Suci saat Malam

Pada hari suci ini, para umat Hindu melaksanakan pemujaan kepada Dewi Laksmi dengan bersembahyang menggunakan upakara berupa canang sari, atau untuk lebih mantap disertai pejati.

Bahkan bisa dilengkapi dengan ayaban tumpeng pitu, yang dihaturkan di-linggih-kan di kamulan taksu atau pelangkiran.

Sebagai linggih Dewi Laksmi atau Ida Bhatara Sri Rambut Sedana, sebagai wujud ucapan terima kasih karena beliau yang telah melimpahkan rahmatnya berupa kesejahteraan, rezeki, dan kemakmuran sehingga umat dapat menikmati amerta untuk kehidupan.

Selain itu, umat Hindu yang berprofesi sebagai pedagang atau pengusaha juga pada hari suci ini akan melakukan pemujaan di pelangkiran yang diyakini sebagai "linggih" Dewi Laksmi

Tujuannya agar usaha atau dagangannya lancar dan berjalan dengan baik atas karunia Tuhan.

Agama Hindu sering dianalogikan agama rasa.

 Menurut Lontar Sundarigama, bahwa pada hari suci ini inti hakikatnya adalah memuja keagungan Tuhan juga dengan mengendalikan hawa nafsu dan tidak serakah,tidak boros dengan keuangan, dan bahkan ada pantangan yang tidak boleh dilanggar yaitu tidak boleh mem bayar utang karena akan mengakibatkan sulit/seret rezeki yang masuk.

"Hal ini adalah keyakinan berdasarkan rasa atau juga mitologi, yang tidak boleh dan harus ditaati sebagai umat Hindu yang punya keyakinan yang mendalam seperti itu," jelasnya.

Secara filosofis dengan kentalnya budaya tradisional, bahwa pemujaan terhadap Dewi Laksmi atau Ida Bhatara Rambut Sedana, di samping sebagai ekspresi ucapan terima kasih, juga disertai memohon kepada Beliau agar tetap dianugerahi kesejahteraan, rezeki, keselamatan dalam mengarungi hidup dan kehidupan sebagai umat manusia.

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved