Breaking News:

Myanmar

Militer Myanmar Tuduh Artis dan Sutradara Film Menghasut Pemberontakan, Penangkapan Berlanjut

Kabar terbaru junta militer Myanmar memburu enam orang artis dan sutradara film yang dituduh menghasut pemberontakan.

Editor: DionDBPutra
YE AUNG THU/AF
Para pengunjuk rasa mengambil bagian dalam demonstrasi menentang kudeta militer di Yangon pada 8 Februari 2021. Sampai hari ini junta militer terus menangkap orang-orang yang dianggap melawan pemerintah. 

TRIBUN-BALI.COM, NAYPIYDAW - Militer Myanmar terus menangkap orang-orang yang dipandang berseberangan atau melawan kudeta 1 Februari 2021.

Kabar terbaru junta militer memburu enam orang artis dan sutradara film yang dituduh menghasut pemberontakan. Mereka itu masuk daftar surat perintah penangkapan pada Rabu 17 Februari 2021.

The Irrawaddy hari Kamis 18 Februari 2021 melaporkan, para artis dan sutradara Myanmar itu dituduh menghasut pegawai negeri sipil ( PNS) melakukan perlawanan terhadap rezim militer pimpinan Jenderal Min Aung Hlaing.

Para pesohor itu mendorong PNS bergabung dengan gerakan pembangkangan sipil nasional (CDM) melawan kudeta militer menggulingkan pemimpin de facto Aung San Suu Kyi.

Baca juga: Kembali Panas, Hampir Seluruh Myanmar Offline Demonstran Anti-Kudeta Aung San Suu Kyi Ditembaki

Baca juga: Militer Myanmar Wajibkan Tuan Rumah Lapor Tamu yang Menginap

Baca juga: Militer Myanmar Tangkap Peramal Muda yang Sedang Berdoa di Kuil, Eskalasi Aksi Protes Meningkat

Militer memburu aktor film terkenal Myanmar seperti Pyay Ti Oo dan Lu Min. Sutradara film Ko Pauk, Wyne, dan Na Gyi serta rapper Anaga.

Mereka adalah beberapa di antara para artis dan sutradara film yang dituduh junta militer telah menggunakan popularitasnya menyerukan pegawai negeri sipil bergabung dalam CDM dan aksi protes anti-kudeta.

Hal itu disampaikan pihak militer dalam pernyataan publik pada Rabu malam waktu setempat 17 Februari 2021.

Mereka dituntut berdasarkan Pasal 505 (a) KUHP di kota-kota masing-masing tempat mereka tinggal.
Junta pun memperingatkan publik "siapapun yang menampung mereka juga akan (dikenakan) tindak hukum."

Gerakan CDM dimulai dari petugas kesehatan dua hari setelah kudeta, kemudian berkembang ke sejumlah petugas polisi, guru, insinyur, petugas kereta api, staf bank, serta penyiar berita dari Kementerian Informasi, yang memboikot kudeta.

Sejak 6 Februari 2021, ratusan ribu warga Myanmar turun ke jalan-jalan untuk memprotes kudeta militer, mengecam rezim, dan mendesak pembebasan para pemimpin sipil yang ditahan, termasuk Penasihat Negara Aung San Suu Kyi dan Presiden Win Myint.

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved