Breaking News:

Berita Denpasar

Jual Obat Keras Ilegal, Dwi Santoso Dituntut Dua Tahun Penjara Saat Disidang di PN Denpasar

Dwi Santoso (36) dituntut pidana penjara selama dua tahun oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU). Pria asal Jombang, Jawa Timur ini dinilai bersalah menjual

tangkap layar Putu Candra
Dwi Santoso saat menjalani sidang online dari Lapas Kerobokan. Ia dituntut 2 tahun penjara, karena diduga menjual obat keras ilegal. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dwi Santoso (36) dituntut pidana penjara selama dua tahun oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Pria asal Jombang, Jawa Timur ini dinilai bersalah menjual obat keras secara ilegal.

Saat diamankan oleh petugas gabungan, terdakwa membawa sebanyak 2 botol plastik yang berisi masing-masing 1.025 tablet dan 953 tablet berwarna putih dengan logo Y.

Tuntutan telah dibacakan JPU dalam sidang yang digelar secara virtual di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar. 

Baca juga: Dinkes Bangli Gelar Sosialisasi Pelaksanaan Vaksin di Lapas Narkotika Kelas IIA Bangli

Baca juga: Kembali Diringkus Jadi Kurir Narkotik di Denpasar Bali, Vicky Dihukum 8,5 Tahun Penjara

Baca juga: Miliki Narkotik Jenis Baru Bernama Cookis, Defranson Jalani Sidang Virtual di PN Denpasar

"Terdakwa Dwi Santoso dituntut pidana dua tahun penjara, denda sebesar Rp 5 juta dengan ketentuan apabila tidak membayar maka diganti tiga bulan kurungan," terang JPU Dewa Nyoman Wira Yoga Adiputra saat dikonfirmasi, Jumat, 19 Pebruari 2021.

Pihaknya mengatakan, dari pembuktian di persidangan, juga keterangan saksi, perbuatan terdakwa telah terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana kesehatan.

Yakni, dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan farmasi atau alat kesehatan yang tidak memiliki izin edar. 

Baca juga: Banting Setir Jadi Kurir Narkotik, Puguh Menerima Putusan Dihukum 10 Tahun Penjara

Baca juga: Jenis Narkotika P-Flouro Fori Pertama Kali Terungkap di Bali Menyeret Selebgram Cantik Asal Jakarta

Baca juga: Ibu Cantik Penjual Kue di Denpasar Ini Diamankan BNNP Bali Terlibat Jaringan Narkotika Kendari-Bali

Perbuatan terdakwa tersebut telah diatur dan diancam dalam Pasal 197 Jo Pasal 106 ayat (1) UU RI No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. 

Sebagaimana pertimbangan memberatkan, JPU Dewa Wira menilai, perbuatan terdakwa dapat memberikan peluang terjadi penjualan obat keras secara ilegal, dan sangat merugikan kesehatan konsumen.

Sedangkan hal yang meringankan, terdakwa mengakui perbuatannya dan masih menjadi tulang punggung keluarga dalam mencari nafkah. 

Baca juga: Curi Senpi Polisi yang Alami Kecelakaan di Kuta Badung, Pieter Diganjar Dua Tahun Penjara

Terhadap tuntutan itu, terdakwa langsung menyampaikan pembelaan secara lisan. Kepada majelis hakim diketuai Kony Hartanto, terdakwa memohon keringanan hukuman.

"Intinya terdakwa mengakui dan menyesali perbuatannya. Terdakwa juga tulang punggung keluarga," urai JPU Dewa wira. 

Diketahui, terdakwa ditangkap oleh petugas gabungan dari Polda Bali dan Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Denpasar, 16 November 2020 di sebuah rumah makan, Jalan Cok Agung Tresna, Renon, Denpasar, Bali.

Saat itu, petugas berhasil menyita barang bukti berupa tablet berwarna putih dengan logo Y sebanyak 2 botol plastik dengan rincian masing-masing botol berisi 1.025 tablet dan 953 tablet. (*)

Penulis: Putu Candra
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved