Breaking News:

Bahaya Radikalisme, Perkuat Arus Tengah dalam Masyarakat Multikultural

AAGN Ari Dwipayana menjadi satu diantara narasumber dalam Rapat Koordinasi Dirjen Bimas Hindu

Penulis: AA Seri Kusniarti
Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Istimewa
Ari Dwipayana - Bahaya Radikalisme, Perkuat Arus Tengah dalam Masyarakat Multikultural 

Laporan Wartawan Tribun Bali Anak Agung Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - AAGN Ari Dwipayana, Koordinator Staf Khusus Presiden, kembali menjadi satu diantara narasumber dalam Rapat Koordinasi Dirjen Bimas Hindu dengan tokoh-tokoh umat Hindu di Jakarta.

Di tengah suasana pandemi, rapat ini dihadiri perwakilan 36 tokoh dari Majelis Umat Hindu, organisasi masyarakat dan kepemudaan Hindu.

Serta pejabat Dirjen Bimas Hindu secara langsung, sebagian lainnya hadir secara virtual.

Dirjen Bimas Hindu, Tri Handoko Seto, dalam sambutannya menekankan pentingnya membangun kesamaan pandangan tentang moderasi beragama baik dengan kalangan eksternal, maupun internal antar umat Hindu sendiri.

Baca juga: Bagi Umat Hindu Bali, Otonan Lebih Penting daripada Ulang Tahun, Apa Sebabnya?

Baca juga: Jejak Hindu di Candi Prambanan, Ari Dwipayana: Pelestarian dan Ritual Tak Perlu Dikontraskan

Baca juga: Jangan Bayar Utang, Ini Makna Rahina Buda Cemeng Ukir menurut Kepercayaan Hindu Bali

Ia mengatakan, setidaknya ada empat indikator keberhasilan moderasi beragama, yang harus terus diupayakan seluruh stakeholder Kementerian Agama dan masyarakat yaitu komitmen kebangsaan, anti kekerasan, toleransi dan penerimaan terhadap tradisi.

Menurut Seto, Menteri Agama terus menggelorakan semangat moderasi beragama karena sehebat apapun program-program pemerintah, jika tidak dijiwai moderasi beragama akan menimbulkan kerusakan-kerusakan yang kerusakannya bisa melebihi kecepatan pembangunannya sendiri.

Dalam acara tersebut, Ari Dwipayana menekankan pentingnya penguatan arus tengah khususnya di saat banyak negara sedang menghadapi tantangan atas kondisi masyarakat yang heterogen.

Jerman atau Eropa yang dulu sangat homogen, saat ini juga berhadapan dengan tantangan baru yang disebabkan kondisi masyarakatnya yang sekarang sangat heterogen.

Pada saat yang sama, banyak negara yang juga mulai bergeser dari monokultur menjadi multikultur.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved