Myanmar

Indonesia Bantah Dukung Pemilu Baru di Myanmar, KBRI Yangon Didemo

Warga Myanmar yang menentang kudeta berunjuk rasa di depan Gedung KBRI Yangon pada Selasa 23 Februari 2021.

Editor: DionDBPutra
AFP/Sai Aung Utama
Para pengunjuk rasa menyalakan lilin di luar Kedutaan Besar AS selama demonstrasi menentang kudeta militer di Yangon pada 21 Februari 2021. 

Meski terlambat, kelompok hak asasi Amnesty International dan Asylum Access kemudian meminta perintah pengadilan pada Senin (22/2/2021) untuk menghentikan deportasi.

Lembaga tersebut mengatakan bahwa ada 3 orang yang terdaftar di UNHCR dan 17 anak di bawah umur yang memiliki setidaknya 1 orang tua di Malaysia, termasuk di antara orang-orang yang dideportasi.

"Jika Malaysia bersikeras untuk mengembalikan 1.200 orang, negara akan bertanggung jawab untuk menempatkan mereka pada risiko penganiayaan lebih lanjut, kekerasan dan bahkan kematian," kata Katrina Maliamauv, direktur Amnesty Malaysia pada Senin 22 Februari 2021.

Malaysia belum menanggapi secara terbuka kritik atau pertanyaan media atas deportasi pencari suaka dan mereka yang terdaftar di UNHCR.

Kekhawatiran tentang deportasi pencari suaka yang tidak terdaftar juga tetap ada, karena UNHCR belum diizinkan untuk mewawancarai tahanan selama lebih dari setahun untuk memverifikasi status mereka, di tengah tindakan keras terhadap migran tidak berdokumen di Malaysia.

Misi AS dan Barat lainnya telah mencoba menghalangi Malaysia untuk melanjutkan deportasi dan mendesak pemerintah untuk mengizinkan UNHCR mewawancarai para tahanan.

Kelompok negara itu juga mengatakan Malaysia melegitimasi pemerintahan militer Myanmar bekerja sama dengan junta.

Artikel ini sudah tayang di Kompas.com berjudul KBRI Yangon Didemo, Indonesia Bantah Dukung Pemilu Baru di Myanmar

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved